Home / Agama / Artikel

Senin, 16 Maret 2026 - 09:51 WIB

Sesaat Akhirat Terasa Nyata, Lalu Kembali Seolah Menjadi “Mitos”

Mengapa Fenomena Kematian Hanya Mengguncang Iman Kita Cuma Sesaat?

Beberapa waktu lalu, kabar itu datang lagi. lagi. Dan lagi.

Pertama, saya ingat kakak kelas saya waktu MTs. Beberapa tahun setelah keluar sekolah, saya dengar dia meninggal. Kami dekat,. Umurnya sebentar saja di dunia.

Lalu tahun kemarin, adik kelas saya semasa masih MD, meninggal. Masih muda. Masih terlalu muda.

Lalu artis yang mungkin saya tidak terlalu ngefans, tapi sangat populer. Tiba-tiba meninggal. Saya kaget, meski tidak kenal.

Bahkan teman saya yang biasa saya jual beli kuota dan kartu perdana meninggal. Yang lebih mengagetkan: saya baru tahu dua tahun kemudian. Dua tahun! Selama itu saya tidak tahu, tidak sadar, tidak bertanya. Dia sudah pergi, dan dunia tetap berjalan tanpa saya ketahui kepergiannya.

Kemarin sempat gempar: artis Lula Lahfa meninggal. Dan baru-baru ini Vidi Aldiano juga meninggal. Nama-nama yang saya kenal, yang masih muda, yang masih berkarya. Tiba-tiba habis.

Setiap kali kabar itu masuk, perasaan saya campur aduk. Yang pertama pasti kaget. Lalu tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan ini datang sendiri, tanpa saya panggil:

“Bukannya dia semalam ikut acara ini? Masih kelihatan sehat…”

“Umurnya nggak jauh dari saya… berarti saya juga bisa kapan saja.”

“Dia salat nggak ya?”

Nah, yang terakhir itu selalu muncul. Soalnya kalau ada orang meninggal tetangga, saudara, atau siapa pun, saya selalu bertanya dalam hati: dia salat nggak ya?

Karena saya tahu, salat itu tiang agama. Kalau ditinggalkan, dosanya besar. Lalu saya mikir: habis di alam kubur, dia ditanyain Munkar Nakir, gimana jawabnya? Nasibnya gimana? Buruk atau baik?

“Dia sekarang lagi apa ya?”

“Dia pasti kaget banget nggak sih? Kayak: ‘Hah? Saya udah mati? Apa saya udah meninggal?'”

Saya bayangkan dia di sana. Tubuhnya sudah nggak bisa bergerak. Semua orang sudah pergi. Dia tinggal sendirian. Padahal dia pasti pengen bangun, pengen berbuat sesuatu, pengen ngelakuin amal kebaikan yang dulu sering ditunda-tunda. Tapi sudah terlambat. Sudah nggak bisa.

Dari situ, saya nggak bisa berhenti. Pikiran saya langsung balik ke diri sendiri:

“Gimana ya kalau saya juga mati muda?”

“Pasti saya kaget banget pas itu.”

“Salat saya bener nggak ya? Diterima nggak ya?”

“Gimana kalau saya mati pas lagi jauh sama Tuhan?”

Pertanyaan terakhir itu yang paling berat. Karena saya tahu diri: kadang dekat, kadang jauh. Kadang rajin salat, kadang bermalas-malasan.

Kadang ingat Tuhan, kadang tenggelam dalam urusan dunia.

Di saat-saat seperti itu, saat kabar kematian datang sambung-menyambung, saat saya membayangkan mereka yang pergi dalam keadaan mungkin belum siap, saat saya membayangkan diri sendiri di posisi yang sama. Saya sadar: dunia ini nggak ada apa-apanya.

Dunia ini cuma sekejap mata. Sekarang ada, besok ceritanya selesai. Hari ini kita sibuk dengan rencana-rencana besar, dengan target-target, dengan drama-drama kecil yang terasa sangat penting. Besok? Mungkin kita cuma tinggal nama, itupun kalau ada yang ingat.

“Gimana kalau kita dijemput dalam keadaan yang belum siap?”

“Gimana kalau habis nulis artikel ini, waktu saya udah habis?”

“Dosa apa yang belum saya sesali?”

“Janji-janji apa yang nggak akan saya ulangi, tapi saya ulang terus?”

“Berapa banyak orang yang sudah saya sakiti?”

“Berapa ribu juta kali saya mengecewakan Tuhan?”

Di saat-saat refleksi ini, saat kematian orang-orang di sekitar saya seperti palu yang bertubi-tubi menghantam hati, iman saya naik. Naik tinggi. Setinggi-tingginya.

Tiba-tiba akhirat terasa nyata. Bukan cerita. Bukan dongeng pengantar tidur. Tapi sesuatu yang pasti akan saya hadapi, mungkin dalam waktu dekat.

Tiba-tiba saya ingin tobat sungguh-sungguh. Tiba-tiba saya ingin berubah. Tiba-tiba dunia terasa kecil, sementara akhirat terasa besar dan mendesak.

Tapi…

Beberapa jam kemudian. Besoknya. Lusa.

Iman itu turun lagi. Perlahan, tapi pasti.

Karena inilah yang terjadi pada saya, mungkin juga pada kita semua.

Saat kabar kematian datang, akhirat terasa begitu nyata. Tapi begitu iman turun, begitu dunia kembali menarik perhatian, akhirat perlahan berubah menjadi sesuatu yang abstrak.

Ia seperti cerita lama yang kita dengar tapi tidak benar-benar kita rasakan dampaknya dalam keseharian. Ia seperti dongeng tentang tempat yang jauh, kita tahu ada, tapi tidak cukup dekat untuk mengubah cara kita hidup.

Dan lebih dari itu: perilaku kita sendiri yang membuat akhirat itu seolah menjadi ”mitos”.

Kita terus melakukan kemaksiatan. Kita terus menunda tobat. Kita terus tenggelam dalam hal-hal yang Allah larang, seolah tidak ada konsekuensi.

Kita hidup seolah tidak ada perhitungan, tidak ada neraca amal, tidak ada surga dan neraka yang menanti.

Padahal kita tahu dengan ilmu kita bahwa semua itu ada dan nyata. Bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, akan diperhitungkan dengan seadil-adilnya.

Tapi pengetahuan itu tidak cukup kuat untuk menghentikan kita dari kemaksiatan.

Sehingga akhirat itu yang seharusnya menjadi tujuan utama, yang seharusnya lebih nyata dari dunia yang kita pijak tapi hanyalah menjadi seperti mitos belaka.

Inilah ironi terbesar: kita meyakini akhirat, tapi kita hidup seolah akhirat itu tidak ada. Kita percaya pada hari perhitungan, tapi kita berbuat hal-hal yang dimurkai Allah, seolah hari itu tidak akan pernah datang.

Dan yang lebih menyedihkan: kita terus mengulanginya. Berulang kali. Setiap kali ada kematian, kita tersadar. Setiap kali iman naik, kita berjanji. Tapi setiap kali pula, perlahan-lahan, kita kembali tenggelam. Dan akhirat kembali menjadi asing.

Saya bertanya-tanya: Kenapa bisa begitu? Apakah ini hanya terjadi pada saya? Apakah orang lain juga mengalami hal yang sama?

Saya coba jujur sama diri sendiri. Mungkin ada beberapa alasan kenapa hidayah kematian ini cepat memudar.

Pertama, mungkin karena manusia memang mudah lupa. Itu fitrah kita, bukan dosa. Lupa itu mekanisme alami supaya kita bisa terus hidup.

Coba bayangkan kalau kita terus-terusan dalam kondisi “merasa mati” selama berhari-hari, mungkin kita nggak akan bisa kerja, nggak akan bisa makan, nggak akan bisa ketawa. Kita akan lumpuh.

Mungkin Allah memang mendesain kita begitu: bisa merasakan kedekatan dengan kematian, tapi nggak terus-terusan.

Kedua, dunia ini memang dirancang untuk “melenakan”. Ada hiruk pikuk yang terus menarik perhatian. Pekerjaan. Tagihan. Target. Drama pertemanan. Scroll medsos. Semuanya berebut perhatian, dan perlahan-lahan, tanpa sadar, akhirnya kita kembali tenggelam.

Ketiga, ada jurang antara “tahu” dan “merasa”. Saya tahu kematian itu pasti. Saya tahu akhirat itu nyata. Tapi merasakan kedekatan kematian itu berbeda.

Butuh guncangan seperti kabar kematian orang terdekat untuk membuat saya merasa. Dan rasa itu, sayangnya, cepat menguap kalau nggak dirawat.

Tapi saya juga mencari jawaban dari Al-Qur’an dan Hadis. Dan saya nemu sesuatu yang menenangkan.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya…”

(QS. Al-Anfal: 2)

Ayat ini jelas menyatakan bahwa iman itu bisa bertambah. Dan para ulama menjelaskan: kalau bisa bertambah, berarti juga bisa berkurang. Imam Syafii, Imam Ahmad, dan jumhur ulama sepakat tentang ini .

Lalu ada satu kisah dari zaman Nabi yang sangat terkenal. Dari sahabat Hanzhalah Al-Usayyidi—ia termasuk juru tulis Rasulullah—ia bercerita:

“Wahai Rasulullah, Hanzhalah telah munafik.” Rasulullah bertanya, “Apa yang terjadi?”

Hanzhalah menjawab, “Ketika kami di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala. Namun ketika kami keluar dari sisimu, kami bergaul dengan istri-istri, anak-anak, dan urusan dunia, maka kami banyak lupa.”

Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

“Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, sekiranya kalian terus-menerus dalam keadaan seperti ketika kalian di sisiku, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, saa’ah wa saa’ah (sekali-sekali begitu, sekali-sekali beginian).”

(HR. Muslim, no. 2750)

Hadits ini membuat saya lega. Ternyata fluktuasi iman itu manusiawi. Rasulullah tidak menyalahkan Hanzhalah. Beliau malah mengajarkan keseimbangan.

Bahkan para sahabat paham betul soal naik-turunnya iman ini. Umar bin Khattab pernah berkata, “Marilah kita tambah iman kita,” lalu mereka berdzikir.

Ibnu Mas’ud berdoa, “Ya Allah, tambahkanlah iman, keyakinan, dan kefahaman kami.” Mu’adz bin Jabal juga pernah mengajak, “Duduklah bersama kami, mari kita tambah iman sesaat.”

Abu Darda’ bahkan berkata: “Di antara tanda kefakihan seorang hamba adalah ia senantiasa memperhatikan imannya dan apa saja yang menguranginya.

Dan di antara tanda kefakihan seseorang adalah ia mengetahui apakah imannya sedang bertambah atau berkurang.”

Jadi, turunnya iman setelah hidayah kematian itu bukan berarti iman kita lemah. Itu berarti kita manusia. Yang membedakan adalah: apakah kita membiarkan iman itu terus turun, atau kita berusaha menaikkannya lagi?

Allah sendiri mengingatkan kita tentang betapa dekatnya dia dengan kita. Dalam surat Qaf ayat 16, Allah berfirman:

“Dan sungguh, kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

(QS. Qaf: 16)

Bayangkan, Allah lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Tapi seringnya kita lupa. Kita merasa dia jauh, padahal dia dekat.

Kita merasa dia tidak melihat, padahal dia tahu apa yang kita bisikkan dalam hati .

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Pertama, sadari bahwa ini wajar. Jangan menyalahkan diri berlebihan. Karena putus asa itu lebih berbahaya daripada iman yang turun sementara.

Kedua, manfaatkan momen hidayah. Ketika hidayah datang walau sebentar, tangkap. Jadikan bahan bakar. Catat dalam hati. Niatkan sungguh-sungguh. Karena hidayah itu seperti hujan: nggak turun setiap hari, tapi kalau turun, tampung sebanyak-banyaknya.

Ketiga, rawat iman dengan hal-hal yang bisa menaikkannya:

Ilmu: baca, dengar, pelajari lagi tentang Allah, tentang surga, tentang neraka.

Amal: perbanyak kebaikan, sekecil apa pun.

Dzikir: jaga hati tetap terpaut pada Allah di sela-sela kesibukan.

Tafakkur: luangkan waktu untuk merenung, termasuk merenungi kematian, bukan cuma saat mendengar kabar duka.

Keempat, jangan berhenti berdoa. Minta sama Allah: “Ya Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Karena hati itu bolak-balik, dan yang bisa menetapkannya cuma Allah.

 

Share :

Baca Juga

Agama

Kisah Ali bin Abi Thalib Menikahi Fatimah Az-Zahra

Agama

Ngaji Bareng: Maqashidus Shaum #5

Artikel

Memperingati Hari Pahlawan, Pahlawan Inspirasiku!

Artikel

Overtingking? Apakah Itu, dan Bagaimana Cara Mengatasinya!

Artikel

Kenali Jati Dirimu dan Tips Mencari Jati Diri

Agama

Doa? Kenapa sih Kita Harus Berdo’a?

Agama

Kisah Abu Bakar Menemani dan Melindungi Rasulullah saat Hijrah ke Madinah

Artikel

Apa Dampak Mie Instan Bagi kesehatan?? Yukk Simak!
Exit mobile version