Home / Agama / Artikel / Ngaji

Sabtu, 7 Maret 2026 - 09:00 WIB

Ngaji Bareng: Maqashidus Shaum #5

Pada artikel kali ini kita akan membahas adab puasa yang keempat, yaitu tentang etika buka puasa.

Nah, Rasulullah itu berbuka puasa dulu baru salat magrib. Dalam hal ini banyak yang keliru nih. Ada yang karena waktu magrib itu terlalu sempit kemudian memilih salat magrib dulu, lalu mengakhirkan buka.

Berarti ini jelas tidak mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Tapi ada kemudian yang mencontoh Rasulullah akan tetapi kebablasan buka puasanya, sampai baru takbir di rakat pertama salat magrib, tiba-tiba sudah azan isya.

Ini dua-duanya sama-sama bermasalah ya. Yang dilakukan oleh Rasulullah adalah ketika waktu magrib sudah masuk, maka beliau memakan tamarat beberapa biji kurma saja, tidak yang lainnya.

Baca Juga :  Ngaji Bareng: Maqashidus Shaum #1

Kalau bahasa di kita itu biasanya disebut takjil. Jadi sekadar membatalkan puasa dulu, karena itu sunnahnya beberapa biji kurma atau beberapa tegukan air.

Bagaimana kalau adanya air teh manis? Tidak apa-apa, kalau itu tidak membahayakan badan ya tidak masalah. Para ulama ushul fikih itu berbeda pendapat tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah tentang cara memilih pakaian, cara memilih makanan.

Ada yang berpendapat bahwa memang itulah sunah. Maka ketika Rasulullah memakai gamis, ya kita disunahkan memakai gamis, tapi ada juga yang berpendapat ya itu kan soal kebutuhan jasmani yang kemudian disesuaikan dengan wilayah atau domisili.

Disana gamis itu menunjukkan bahwa Rasulullah suka dengan pakaian tradisional atau adat di daerah beliau.

Baca Juga :  Tugas Kelompok Berasa Tugas Individu!

Jadi buka puasa itu ada dua hal yang keliru dilakukan oleh orang. Pertama ada yang takut kebablasan magribnya sehingga dia salat magrib dulu nampaknya seperti orang yang alim, orang yang sangat hati-hati dalam beragama.

Tapi ini menandakan tidak hati-hati dalam beragama. Makan secukupnya. Kalau kuat minum beberapa tegukukan salat baru makan dan sebagainya.

Kalau tidak ya isi perut secukupnya tapi jangan sampai waktu magribnya hilang. Ini adab soal puasa.

yang keelima dan keenam dari adabnya puasa itu mempercepat berbuka puasa membatalkan puasa ketika sudah magrib. Nah seperti yang tadi dijelaskan, jangan keliru menunda buka puasa untuk salat magrib karena hadis-hadis menyarankan untuk itu.

Bahkan dalam hadis qudsi termasuk Allah sangat mencintai hambanya yang mempercepat buka puasa. Artinya apa? Kalau Allah melarang jangan makan minum, jangan makan minum.

Baca Juga :  Feminisme Islam dan Setelahnya

Kalau Allah sudah membuka pintu izin, lakukanlah yang diizinkan itu.

Ada dalam riwayat lain itu minimal antara berhenti sahur sampai subuh itu minimal 50 ayat Quran dibaca.

Ada hadis lagi yang mengatakan bahwa Rasulullah menjelaskan salah satu syiarnya agama itu adalah mempercepat buka puasa. Maka kita ada war takjil, kan itu sangat ramai menjelang magrib. Justru ini sebagai tanda agama bahwa “oh itu agama Islam pasti”.

Ya, intinya kalau Allah melarang kita hindari hal itu, Allah buka pintu mengizinkan kita, kita harus segera lakukan. Kita sambut anugerah Allah dengan cepat. Allah mengizinkan kita makan. Kita makan.

Tonton versi video lengkapnya dibawah ini

 

Author Profile

Naura Azzahra

Share :

Baca Juga

Artikel

Menggapai Cita-Cita? Mauu Tau Tips Nya, Yukk Simaak!
#Hijrah #Kok makin susah

Agama

Sudah Hijrah Kok Malah Semakin Payah (Part 1)

Artikel

Suara-Suara yang Terbungkam: Tragedi Kemanusiaan di Palestina
Hidup Berujung Mudik

Agama

Hidup Berujung Mudik
Masalah atau Beban Hidup?

Artikel

Masalah atau Beban Hidup? Semua Orang Pasti Mengalaminya!

Artikel

Dampak Penggunaan Media Sosial bagi Anak-Anak

Agama

Kisah Imam Syafi’i Menaklukkan Para Perampok

Artikel

Siapa Sih Sosok Mustafa Kemal Atatürk?