Home / Agama / Artikel

Minggu, 5 Februari 2023 - 07:00 WIB

Sudah Hijrah Kok Malah Semakin Payah (Part 1)

Hei, teman-temanku, saudara-saudaraku. Jika Hijrah-Hijrah itu malah membuatmu semakin payah, rezekimu sempit, makin miskin, hutangmu segunung, anak-anakmu terlantar, hatimu jadi keras, jiwamu gersang, tidur gak tenang. MAKA TINGGALKANLAH MAJELIS ‘HIJRAH’ ITU!

Begitulah nasihat guruku yang mulia kepada mas Pram. Malam itu aku dan teman-teman lagi ngaji kitab Tajul ‘Arus karya Sye kh Ibnu Athaillah, lalu datanglah Pram diantar mas Topa untuk minta wejangan sama guruku.

Pram, dulunya SPV di hotel berbintang dengan gaji dan segala tunjangan yang cukup untuk menghidupi istri dan lima anaknya (yeah, lima). Semenjak dia memutuskan ‘hijrah’, kehidupan yang dijalaninya makin sulit. Sudah 5 tahun Pram menjalani rutinitas hijrahnya, ia aktif ikut majelis ustadnya.

Niatnya mulia, Pram cuma mau jd imam rumah tangga yang baik dengan memperdalam ilmu agama lewat majelis ilmu yg rutin ia datangi seminggu sekali, dengan harapan ilmu yang ia dapet dari kajian bisa diterapkan ke kehidupan sehari-hari. Namun kenyataan tidak sesuai harapan, hidupnya makin berat.

Ustadnya nyuruh Pram keluar dari tempat kerja, katanya tuh hotel tempat maksiat, banyak pasangan “Non Halal” yg melakukan perbuatan haram di hotel tersebut, jadi duit gajinya juga auto Haram. Akhirnya, Pram ganti jualan peci & sarung di pasar malam supaya tetap bisa menghidupi keluarganya.

Baca Juga :  Obat Hati? Apa Saja Itu, Yuk Di Simak!

Si ustad pun nyuruh jual mobil yang katanya teracuni riba kredit, padahal sudah 2 tahun ini Pram perjuangkan cicilannya. KPR rumah ampir lunas pun dimasalahin. Katanya KPR riba, bayarnya pakai gaji riba, rumah tidak berkah, isinya setan semua dan lebih baik hidup ngontrak di gubuk yang aman dari riba.

Pram tidak bisa apa-apa selain taat perintah ustadnya, karena ia beranggapan bahwa ustad tersebut adalah seorang Faqih tentang ilmu agama, ia pun takut berdosa jika harus menolak perintah si ustad. Sounds familiar? Is this happening in your surroundings too?

“Mbah yai, saya harus gimana? hutang saya makin banyak, mau tak mau saya harus berhutang non riba hanya utk makan karena hasil jualan tak cukup utk memenuhi nafkah keluarga,” tanya Pram kpd guruku. Kenapa pula hijrah harus menyusahkan diri sendiri?

Ini namanya kamu mempersulit diri, dan akibat kesulitan itu pasti yang kena ya keluargamu. Gusti Allah selalu mengendaki kemudahan bagi hambanya, trus mengapa malah manusianya yang mempersulit diri dalam menjalankan perintah-Nya?

Baca Juga :  Hidayatus Shibyan Hiring Teachers

Kanjeng Rasul SAW dawuh, “Agama itu mudah dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat & sulit)”. sekarang terbukti hidupmu semakin berat dan sulit karena dirimu mempersulitnya sendiri.

Di dunia ini banyak yang keliru memahami maksud Tuhan dalam ayat-ayatNya. Sangat jelas Allah berfirman,

“Yuridullahu bikumul yusra wa la yuridu bikumul ‘usra”

artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”.

Lalu ngapain manusia itu mempersulit dirinya?

Ini namanya cari-cari perkara pada Tuhanmu sendiri, nanti kalo datang cobaan, bilangnya, “Tuhan, salahku apa sampai aku diuji spt ini?”. Kalau ingin paham tentang riba, yah harus ngaji kepada para fuqoha, pelajari semua kitab yg menjelaskan tentang hukum riba di bawah bimbingan fuqoha.

Orang-orang merasa bangganya setengah mati kalo datang ke kajian yang dipimpin oleh ustad-ustad seleb yang entah pernah sekolah agama atau tidak. Begitu dapat tausiyah tentang riba, pulang ke rumah, barang-barang yang ada unsur riba dijualin semua. INI KAN KEBODOHAN STRUKTURAL NAMANYA!

Sekali-kali tanyakan pada ustad-ustad tersebut, apa sih riba itu? apa definisinya? konteks ayatnya gimana? knp ada hukum riba? knp hukum riba diturunkan? apa sebab turunnya hukum riba? apa saja faktor & unsur riba? Bisa jawab ngga? Belum tentu.

Baca Juga :  Polemik Dana Haji: “Biaya Haji Naik”

Tanyakan itu semua dengan kritis. Umat jaman sekarang harus cerdas, jangan Taqlid Buta, terus kalian semua mau aja dibodohi dengan doktrin-doktrin agama. Ustadnya pun juga begitu. Topik tausiyah jangan cuma cocomeo urusan Bid’ah, Riba dan trus lanjut marah-marah saja.

Ustad jangan cuma modal dalil, “La ta`kulur riba ad’afam muda’afataw” (janganlah kamu makan riba dengan berlipat ganda) Trus nyuruh majelisnya keluar dari kerjaan, jualin barang-barang, trus duitnya disetor ke si ustad. Nanti kalo saya kasih tau bahwa ada riba yamg tidak mengandung riba, bisa kaget-kaget.

Inget ya gaes, Sekali lagi, Tuhan tidak pernah menghendaki kesulitan bagi hambanya, tapi manusialah yg mempersulit dirinya sendiri. Syariat Allah bukanlah hukum kemutlakan yang kaku, selalu ada fleksibilitas kelembutan di dalamnya, seiring dgn asma sifat Ya Latif.

(bersambung part 2)

diambil dari: thread@CeritaGuruadeirra

Author Profile

Akhmadi Didi

Share :

Baca Juga

Artikel

Overtingking? Apakah Itu, dan Bagaimana Cara Mengatasinya!

Artikel

Memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Lahirnya Bahasa Indonesia!
Hari Pendidikan Pesantren

Agama

Selamat Hari “Pesantren” Pendidikan Nasional
yuk perbanyak

Artikel

Yuk Perbanyak Ibadah di Bulan Ramadhan! Ini Tipsnya

Artikel

“Kok masih Nakal” Padahal Sekolah di Madrasah
Isbal part 1

Agama

Isbal Part (1)
Gawaimu?

Artikel

Gawaimu? Positif atau Negatifkah?
Pergaulan remaja

Artikel

Pergaulan Remaja itu Penting Lhoo Yuk Pelajari!