Ada sebagian ulama yang memungkinkan malam lailatul qadar itu malam hari raya, karena beberapa hadis itu menjelaskan bahwa di malam hari raya itu Allah memberi salam kepada hamba-hambnya.
Pada momen di mana Allah memberi salam pada hamba-hambanya, sangat besar kemungkinan malam itu adalah malam yang jelas lebih istimewa dari malam 1000 bulan.
Maka kemudian ulama berpikir, mungkin saja malam lailatul qadar itu terjadi pada malam lebaran. Dalam kitab-kitab lain memang menarik pembahasan tentang malam Lailatul Qadar ini.
Ada yang berpendapat potensi terjadinya malam lailatul qadar itu semenjak masuk Ramadan itu sudah ada potensi Lailatul Qadar. Ada lagi yang berpendapat malam 17 Ramadan, karena malam itu malam diturunkannya Al-Qur’an.
Lailatul Qadar dijelaskan juga malam diturunkannya Al-Qur’an. Ada yang berpendapat di 10 akhir, ada yang berpendapat lagi di malam hari lebaran. Tapi yang paling sahih itu adalah di 10 akhir.
Ada lagi yang berpendapat di malam spesifik di malam 21, malam 21 Ramadan, karena Rasulullah pada malam 21 itu sujud subuhnya itu tiba-tiba di mukanya itu ada bekas air dan bekas debu. Menurut satu riwayat bahwa ketika terjadi malam Lailatul Qadar itu ada gerimis.
Ini salah satu tanda malam lailatul qadar gerimis. Kalau di Indonesia agak repot, apalagi musim hujan kan bulan puasa gerimis hujan terus.
Di Arab Saudi, di negara-negara Jazir Arab itu kan negara yang sangat jarang terjadi hujan. Maka ketika malam bulan puasa di malam 21 keatas ada hujan, mereka itu sangat yakin itu malam Lailatul Qadar.
Saya ingat pesan guru saya, “Orang itu kalau lailatul qadar itu pada sibuk bicara tentang ibadah. Nanti kelipatan pahalanya 10.000 bulan.
Lalu beliau mengingatkan kepada santri-santrinya, waktu itu saya kebetulan ngaji ke beliau, pada malam itu kalau kita bermaksiat pun ya maksiat kita itu setara nilainya dengan lebih dari 1000 bulan.
Maka saya sering bercanda dengan teman-teman, kalau anda tidur di malam lailatul qadar, maka anda seperti tidur 1000 bulan. Kalau barang siapa menjomblo di malam lailatul qadar maka dia seperti menjomblo di 1000 bulan juga.
Tapi saya terinspirasi oleh apa yang disampaikan oleh guru saya bahwa di malam-malam istimewa di mana pahala dilipat gandakan, maka dosa pun nilainya berlipat ganda.
Di malam Lailatul Qadar ketika ibadah pahalanya seperti beribadah 1000 bulan lebih. Maka ketika maksiat juga maksiatnya seperti 1000 bulan lebih.
Maka hati-hati di malam-malam istimewa itu. Jangan sampai kemudian kita lengah, kita lalai. Mungkin ulama-ulama zaman dulu sibuk mewaspadai datangnya Lailatul Qadar untuk meningkatkan ibadahnya.
Kelas-kelas kita kalau tidak mampu meningkatkan ibadahnya di malam-malam itu, kita tetap harus sibuk meneliti kapan potensi terjadinya malam Lailatul Qadar.
Agar jangan sampai kita tercatat di buku amal kita tidur 1000 tahun atau 1000 bulan lebih gara-gara di malam lailatul qadar kita tidur. Nauzubillah…
Kalau kemudian di malam lailatul qadar kita bermaksiat, kita menghardik orang tua, kita memaki anak kita, kita memaki istri kita atau istri melawan suaminya, itu akan tercatat sebagai maksiat pada waktu yang sebenarnya bernilai lebih baik daripada 1000 bulan.
Ini berarti itu imbang ya.Imbang antara pahala dan dosanya berimang itu senilai sama senilai 1000 bulan lebih.
Maka kita harus selalu hati-hati di malam-malam istimewa. Bukan hanya malam lailatul qadar saja, tetapi juga malam Jumat yang istimewa. Berarti kalau maksiat ya maksiatnya juga bernilai lipatan. Artinya dia seakan-akan bermaksiat selama 1000 bulan.
Mudah-mudahan di malam lailatul qadar kita dipertemukan Allah dengan malam lailatul qadar dalam kondisi kita beribadah kepada Allah.
Jangan sampai kita tercatat sebagai orang yang seakan-akan tidur 1000 bulan lebih. Apalagi sampai tercatat seakan-akan bermaksiat 1000 bulan lebih. Nauzubillah.
Tonton versi video lengkapnya dibawah ini
