Home / Artikel / Opinion / Pendidikan / Umum

Kamis, 21 Mei 2026 - 20:16 WIB

Sibuk Bukan Berarti Hebat!

Kita pasti sering banget denger kata “produktif” dikampus. Rasanya kalau sehari nggak ngisi jadwal dengan rapat, tugas, atau organisasi langsung muncul rasa bersalah.

Padahal, hidupmu itu bukan cuma soal checklist target-target kita doang. Ada hal yang lebih penting, yaitu belajar sayang sama diri sendiri.

Tapi pernah ga sih kamu ngerasa capek banget sampai nggak bisa menikmati hasil kerja kerasmu? Nah hati-hati lhoo! itu dia tanda kalau produktivitas sudah berubah jadi jebakan.

Bayangin kalau ada mahasiswa yang tiap hari sibuk rapat organisasi sampai jam 11 malam, lalu lanjut ngerjain tugas sampai subuh.

Besoknya kuliah dengan mata panda, dan tetep merasa “kurang roduktif”. Padahal, tubuhnya sudah teriak minta istirahat.

Produktif Bukan Segalanya!!!!

Produktif itu bagus, tapi kalau ujung-ujungnya bikin burnout, yaa apa gunanya dong? Nah biasanya mahasiswa-mahasiswa itu sering banget terjebak oleh mindset “Harus sibuk biar keren” Padahal, istirahat juga bagian dari produktivitas.

Sebenarnya memang bagus kalau setiap hari kita punya timeline yang jelas karena kita bisa mengatur jadwal, tetapi kalau jadwalnya terlalu menjebak, dalam kata lain membuat kamu merasa waktu istirahat selalu kurang, bahkan tidak punya waktu istirahat. Bisa dipastikan itu akan menjadi bumerang untuk dirimu sendiri.

Baca Juga :  Tugas Numpuk? Jangan Pusing, Yuk Simak Tipsnya!

Hidup produktif itu adalah hal yang bagus, namun bayangkan handphone saja, jika dipakai setiap saat, setiap waktu, bahkan sampai baterai nya hampir habis dia akan panas kan, nah sama hal nya seperti dirimu ada waktunya untuk beristirahat sejenak.

Self Love itu Proses, bukan Instan

Self love bukan berarti rebahan seharian tanpa tanggung jawab. Justru ini soal mengenali batas diri. Misalnya kamu tahu kalau begadang bikin performa drop, maka belajar self-love berarti berani bilang “cukup” dan tidur lebih awal.

Ada satu cerita nyata, seorang mahasiswa yang terlalu perfeksionis dalam tugas. Dia rela revisi berkali-kali demi nilai A.

Tapi, akhirnya stress sampai dia kehilangan motivasi. Setelah belajar menerima nilai B sebagai progress yang wajar, dia merasa lebih lega. Itulah contoh kecil bahwa self-love itu proses menerima diri, bukan hasil instan.

Baca Juga :  Manusia sebagai Makhluk Berpikir, Tapi Kok?

Rayakan Progress Kecil

Kita sering nunggu moment besar buat merasa bangga pada diri sendiri, misalnya wisuda, IPK yang tinggi, atau lolos beasiswa.

Padahal progress kecil juga layak dirayakan lhoo, contoh kecilnya ketika kamu telah menyelesaikan tugas perkuliahan minggu ini dengan baik, selesai mengerjakan itu, kamu bisa rayakan hal kecil itu dengan contohnya membeli makanan yang kamu sukai atau bahasa gaul sekarangnya adalah self reward, berterimakasih kepada diri sendiri, karena telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Percayalah hal sekecil ini bisa membuat diri sendiri supaya selalu semangat melakukan hal hal yang lain untuk kedepannya, kalau bukan diri sendiri yang mengapresiasi mau siapa lagi hayoo?

Ada cerita tentang mahasiswa yang terlalu perfeksionis dalam kerjaanya, sampai lupa makan dan tidur. Akhirnya bukannya tugasnya cepat selesai malah drop mentalnya.

Lalu ada mahasiswa yang tiap hari memaksa diri untuk menulis 10 halaman. Hasilnya? Mahasiswa itu burnout parah, tulisannya jadi nggak berkualitas. Tetapi setelah dia ubah target jadi 2 halaman per hari ternyata lebih konsisten dan skripsinya selesai tepat waktu.

Baca Juga :  Ngaji Bareng: Maqashidus Shaum #6

Self-Love disini berarti realistis dengan target, bukan yang terlalu memaksakan diri.

Prioritaskan Kesehatan Mental

Deadline memang penting, tapi jangan sampai bikin kamu lupa hal-hal yang prioritas untuk tubuh kamu, seperti makan, tidur, olahraga, atau ngobrol dengan teman.

Kesehatan mental itu investasi jangka panjang.

Bayangkan kalau kamu terus-terusan mengabaikan diri sendiri. Produktivitas mungkin naik sebentar, tapi mental akan jatuh dan semua target bisa berantakan.

Self-love berarti berani bilang “Stop” ketika tubuh dan pikiran butuh istirahat.

Tubuh dan pikiran juga ada kalanya butuh yang namanya jeda untuk tenang dan beristirahat jangan terlalu dipaksakan untuk bekerja terus-terusan. misalnya kamu melakukan hal-hal sederhana, bersantai dengan teman.

Tetapi banyak orang mengiranya Self-Care itu cuma skincarean atau hanya me-time di cafe. Padahal,self care juga bisa berupa hal sederhana, seperti menulis diary, jalan sore, atau sekedar tidur yang cukup.

Mahasiswa yang belajar self care biasanya akan lebih tahan dan kebal dalam menghadapi tekanan. Karena mereka tahu, menjaga diri bukan buang waktu tetapi bagian dari strategi bertahan hidup di dunia kampus.

Author Profile

Nur Sadilah

Share :

Baca Juga

Orang-Orang yang Di Rindukan Oleh Surga

Artikel

Orang-Orang yang Di Rindukan Oleh Surga? Siapa Saja Sih, Yuk Simak!

Artikel

Menggapai Cita-Cita? Mauu Tau Tips Nya, Yukk Simaak!

Pendidikan

New Research Shows Big Opportunities for Small Businesses

Artikel

Tips Mengatasi Permasalahan Keamanan Cyber di Media Sosial
Public Speaking

Artikel

Public Speaking: Mengulik Dua Pandangan ala Stephen E. Lucas dan John A. Daly

Artikel

Mengubah Gugup Menjadi Gairah: Seni Berbicara yang Memikat Audiens

Artikel

Organisasi Kampus? Apakah Penting?

Agama

Ramadhan bukan hanya Tentang Ibadah