Sapaan dari Langit

- Penulis

Kamis, 10 April 2025 - 08:44 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Dukung Pembangunan Pondok Pesantren Al Muhajirin

Di media sosial, sapaan itu kayak pintu. Bisa bikin orang betah ngobrol, atau malah pilih minggir dan skip.
Menariknya, orang yang belum pernah kita temui bisa bikin kita merasa akrab—cuma karena caranya menyapa. Padahal, hanya ketemu di layar.

Tapi makin ke sini aku jadi mikir… siapa sih yang paling jago menyapa?
Yang kata-katanya nggak cuma masuk telinga, tapi nyusup sampai ke dada?

Ternyata bukan influencer. Bukan juga penyair.
Tapi… Allah. Dan Rasul-Nya.

Baca Juga :  2 Permasalahan yang sama dengan 2 Solusi yang Berbeda

Bayangin, Allah itu Maha Segalanya. Tapi saat nyapa hamba-Nya yang sedang salah arah, Dia nggak bilang:
“Wahai pendosa!”
Atau, “Hai kau yang lalai!”
Enggak. Allah bilang:
“Yā ‘ibādī… Wahai hamba-hamba-Ku…”
Bukan sembarang hamba, tapi:
“…yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri…”
Lalu langsung disambung:
“Jangan berputus asa dari rahmat-Ku.” (QS. Az-Zumar: 53)

Lembut sekali. Kita yang jauh, yang penuh cela, tetap disapa: “hamba-Ku.”
Bukan karena kita pantas. Tapi karena kasih-Nya lebih dulu datang, bahkan sebelum kita sempat mengetuk pintu.

Baca Juga :  70 Tahun Ahli Ibadah, Tapi Akhirnya Hancur Karena?

Rasulullah juga begitu.
Seorang pemimpin agung, tapi cara menyapanya lembut dan penuh cinta.

Beliau pernah berkata pada Abu Bakar: “Seandainya aku boleh mengambil kekasih, pasti aku pilih Abu Bakar.”
Kepada Ali: “Engkau bagian dariku, dan aku bagian darimu.”
Pada Ja’far: “Akhlakku mirip dengan akhlakmu.”
Dan Zaid disapa: “Engkau saudara dan maula kami.”

Baca Juga :  5 Tahap yang Membuat Audiens Tergerak dan Bertindak Menurut Alan H. Monroe

Jadi, kenapa kita yang bukan siapa-siapa, kadang malah nyapanya galak? Kita menyapa kayak sudah jadi malaikat penjaga pintu neraka. Kayak kita suci, yg lain pendosa semua.

Sudahlah, kita ini sama-sama pendosa. Hanya beda jalur dosanya.
Tapi apa pun dosamu, jangan pernah keluar dari jalur kasih sayang Ilahi.

Satu sapaan yang benar-benar tulus bisa jadi jalan pulang buat orang yang udah lama nyasar.
Kadang orang nggak butuh diingatkan, dia udah tahu dia salah.
Dia cuma butuh disapa… dengan cinta.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Follow WhatsApp Channel theambyar.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dikhianati, tapi Harus Memaafkan?
Ucapan Orang Tua Bisa Menghancurkan Masa Depan Anak, Hati-hati !!
Awalnya Kosong, Tapi Akhirnya Saya Mengerti Makna Toleransi
Dakwah Instrumental, Politis, atau Elit?
Ngaji Bareng: Maqashidus Shaum #9
Tidur Sepanjang Hari Saat Puasa Ramadan: Apakah Batal atau Tetap Sah?
Ngaji Bareng: Maqashidus Shaum #8
Mencicipi Makanan Sebelum Buka Puasa, Apakah Batal?
Berita ini 5 kali dibaca
Tag :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

nine + eighteen =

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Dikhianati, tapi Harus Memaafkan?

Kamis, 17 September 2026 - 09:00 WIB

Ucapan Orang Tua Bisa Menghancurkan Masa Depan Anak, Hati-hati !!

Senin, 25 Mei 2026 - 21:55 WIB

Awalnya Kosong, Tapi Akhirnya Saya Mengerti Makna Toleransi

Kamis, 9 April 2026 - 10:00 WIB

Dakwah Instrumental, Politis, atau Elit?

Minggu, 29 Maret 2026 - 11:25 WIB

Ngaji Bareng: Maqashidus Shaum #9

Berita Terbaru

Artikel

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Kamis, 29 Okt 2026 - 10:00 WIB

Artikel

Kenapa Kita Susah Berubah?

Minggu, 25 Okt 2026 - 10:00 WIB