Home / Agama / Artikel

Jumat, 9 Januari 2026 - 20:17 WIB

Menyiapkan Hati di Bulan Rajab Sebelum Bulan Ramadhan Datang

Pernah enggak sih punya segudang target pas awal Ramadan? Tapi begitu masuk sepuluh hari kedua, semangatnya sudah mulai menurun. Ingin khatam Quran, tapi mentok di juz sepuluh.

Niatnya tarawih lengkap, tapi badan sudah terlalu lelah karena banyak pekerjaan atau kekenyangan. Akhirnya, Ramadan pun berlalu dan yang tersisa adalah rasa penyesalan, “Wah, Ramadan kali ini masih seperti bulan-bulan biasa. Kurang maksimal lagi nih tahun ini.”

Kalau iya, kita mungkin punya pengalaman yang sama. Rasanya setiap tahun kita mengulang pola yang sama: semangat di awal, lalu di pertengahan mulai turun, dan berakhir dengan begitu banyak penyesalan.

Kita menyia-nyiakan sepuluh malam terakhir Ramadan, malam-malam yang di dalamnya ada Lailatul Qadar yang nilainya seperti seribu bulan, dimana doa-doa pasti dikabulkan oleh Allah. Dan kita lagi-lagi menyalahkan diri sendiri, “Ah, saya kurang kuat imannya,” atau menyalahkan keadaan.

Tapi, coba kita pikirkan lagi. Mungkin masalahnya bukan di bulan Ramadan-nya. Mungkin, kita selama ini melewatkan yang namanya persiapan. Ibaratnya, kalau kita jarang olahraga dan jarang berlari, lalu tiba-tiba dipaksa lari marathon, pasti di awal-awal saja kita cepat, lalu lama-lama kecapekan dan sakit perut.

Nah, mungkin bisa diibaratkan seperti itu. Kita melewatkan persiapan yang seharusnya dimulai dari jauh hari sebelumnya. Dan persiapan itu, dalam kalender Islam, dimulai dari bulan yang sering kita lewati begitu saja: Bulan Rajab.

Kenapa Ramadan Terasa Berat? Mungkin Ini Penyebabnya

Sebelum mencari solusi, mari kita coba tengok ke belakang. Mengapa ibadah di bulan Ramadan kerap terasa begitu berat untuk dipertahankan dari awal hingga akhir?

Pertama, seringkali hati kita belum benar-benar siap. Kita langsung terjun ke dalam lautan ibadah Ramadan—puasa, tarawih, tilawah—dengan membawa beban yang belum kita lepaskan: rasa lelah karena pekerjaan, kesibukan pikiran dengan urusan dunia, dan juga dosa serta kelalaian yang belum benar-benar kita akui dan kita bersihkan.

Ibadah yang seharusnya terasa nikmat, jadi terasa seperti tugas yang memberatkan karena dilakukan dengan hati yang masih kotor dan penuh.

Kedua, seperti yang sudah disinggung, kita langsung “lari sprint” tanpa pemanasan. Bayangkan saja, dari sehari-hari kita mungkin jarang puasa sunah atau shalat malam, lalu tiba-tiba di hari pertama Ramadan kita harus puasa penuh seharian ditambah tarawih berjam-jam. Tubuh dan jiwa kita pasti kaget.

Itu seperti memaksa seorang yang jarang olahraga untuk langsung lari maraton. Hasilnya? Cepat lelah, mudah menyerah, dan ujung-ujungnya merasa gagal.

Lalu, di mana letak solusinya? Ternyata, Islam sudah mengajarkan sebuah pola yang sangat bijak. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita sebuah doa ketika masuk bulan Rajab: “Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana, wa ballighna Ramadhan.” (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan.)

Doa ini bukan sekadar ucapan. Ini adalah sebuah peta perjalanan. Ia menunjukkan bahwa untuk sampai ke Ramadan dengan baik, kita perlu melewati dua stasiun persiapan terlebih dahulu: Rajab dan Sya’ban.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan di Bulan Rajab Ini?

Kuncinya adalah: mulai dengan pelan, tapi konsisten. Tidak perlu yang muluk-muluk dulu.

Pertama, mari kita gunakan Rajab untuk membersihkan dan melapangkan hati.

Ini saatnya kita lebih sering berhenti sejenak, merenung, dan bercakap-cakap dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala; memperbanyak istighfar dan tobat.

Renungkan, kita sudah melakukan apa saja, dan bagaimana cara kita memperbaikinya serta tidak mengulanginya lagi, agar bisa menyambut bulan Ramadan yang sangat ditunggu-tunggu, bulan yang satu malamnya seperti seribu bulan (Malam Lailatul Qadar).

Perbanyaklah istighfar dan tobat. Tidak harus langsung ratusan kali dalam sekali duduk. Coba luangkan waktu dua menit saja setelah shalat Subuh atau sebelum tidur, memohon ampun kepada Allah dengan bersungguh-sungguh.

Rasakan kelegaan saat kita melepaskan beban dosa tersebut. Hati yang lebih lapang inilah yang nanti akan menjadi lahan subur untuk semua kebaikan di Ramadan.

Kedua, mari kita gunakan bulan Rajab untuk membiasakan diri.

Kebiasaan itu dibangun, bukan datang tiba-tiba. Mulailah dengan puasa sunah yang ringan. Coba dengan puasa Senin Kamis. Tidak harus langsung sempurna. Jika suatu hari berat, bisa puasa Senin-nya saja atau Kamis-nya saja. Tujuannya adalah melatih tubuh agar tidak kaget nanti saat Ramadan.

Hal sama juga bisa kita terapkan untuk ibadah lainnya. Coba bangun lima belas menit lebih awal sebelum waktu Subuh untuk shalat tahajud dua rakaat saja. Rasakan kedamaian di sepertiga malam terakhir.

Atau, jaga shalat sunah rawatib sebelum dan setelah shalat wajib. Sedikit demi sedikit, tubuh dan jiwa kita akan terbiasa dengan ritme ibadah yang lebih intens.

Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan Mulai Sekarang:

  1. Beristighfar setiap hari, mulai dari 10 kali saja, tapi rutin.
  2. Puasa sunah minimal Senin saja; jika bisa, lanjutkan Senin-Kamis.
  3. Sisihkan sedikit rezeki untuk sedekah, sekecil apa pun itu.
  4. Jaga shalat sunah rawatib, terutama sunah sebelum Subuh.
  5. Di malam Jumat, coba shalat malam walau hanya 2 rakaat dan bacalah Surah Al-Kahfi. Jadikan ini momen khusus untuk merenung dan mendekatkan diri.

Yang paling penting: jangan berkecil hati jika suatu hari terlewat. Ibadah itu tentang konsistensi, bukan kesempurnaan.

Bayangkan perbedaannya nanti. Saat Ramadan tiba, kita tidak lagi menyambutnya dengan rasa kaget atau terbebani, tapi dengan hati yang sudah lebih lapang setelah banyak bermuhasabah dan beristighfar di bulan Rajab.

Mari kita akhiri dengan doa yang tulus:

“Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana, wa ballighna Ramadhan. Wa a’innā ‘alā shiyāmihi wa qiyāmihi, wa taqabbalhu minnā, yā Karīm.”

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadan. Bantulah kami untuk berpuasa dan mendirikan shalat malamnya, serta terimalah amalan kami, wahai Zat Yang Mahamulia.”

Semoga tahun ini kita semua bisa melalui Ramadan dengan lebih siap, lebih khusyuk, dan lebih dekat dengan-Nya. Aamiin, ya Rabbal ‘alamin

Author Profile

Siti Aisyah

Share :

Baca Juga

Agama

Sapaan dari Langit

Agama

Selamat Hari “Pesantren” Pendidikan Nasional

Artikel

Malam Lailatul Qadar, Yuk cari tahu makna dan cara mendapatkannya!

Agama

Rezeki? Jangan Cemaskan Rezeki Esok!

Artikel

Ujian? Jangan Takut, Yuk Simak Tips dalam Menghadapi Ujian!

Agama

Kisah Ali bin Abi Thalib Menikahi Fatimah Az-Zahra

Agama

Peran Tawakal dalam Mengambil Keputusan Hidup

Agama

Pentingnya Istiqamah dalam Kehidupan
Exit mobile version