Kenapa Kita Susah Berubah?

- Penulis

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Dukung Pembangunan Pondok Pesantren Al Muhajirin

Coba ingat-ingat lagi.

Kapan terakhir kali kamu benar-benar berniat untuk berubah? Mungkin waktu ulang tahun, awal tahun baru, atau setelah nonton video motivasi yang bikin kamu semangat sampai berapi-api.

Kamu tulis targetnya, kamu pasang pengingat di HP, kamu bilang ke diri sendiri: “Kali ini pasti beda, pasti bisa konsisten.”

Dan memang terasa beda, setidaknya untuk beberapa hari pertama.

Tapi lama kelamaan, semua itu perlahan memudar. Bukan karena kamu lemah. Bukan karena kamu nggak serius.

Tapi karena ada sesuatu yang jauh lebih dalam yang sedang bekerja di balik layar sesuatu yang bahkan kamu sendiri nggak lihat.

Berarti apakah otak kita berkhianat?

Untuk memahami kenapa kita susah berubah, kita perlu kenalan dulu dengan bagian otak yang namanya Basal Ganglia.

Ini adalah area kecil di dalam otak yang tugasnya adalah menyimpan kebiasaan.

Setiap kali kamu melakukan sesuatu berulang kali, otak kamu mulai merekam pola itu dan memindahkannya ke sini (Basal Ganglia) supaya kamu nggak perlu berpikir keras setiap kali melakukannya lagi.

Para ilmuwan menyebut proses ini Chunking yaitu saat otak mengubah serangkaian tindakan menjadi satu paket otomatis yang bisa dijalankan tanpa perlu banyak mikir.

Ini sebenarnya luar biasa. Bayangin kalau setiap pagi kamu harus berpikir keras untuk menentukan: kaki mana dulu yang keluar dari kasur? Bagaimana cara menyikat gigi yang benar? Seberapa keras tekanannya? Kamu akan kelelahan bahkan sebelum sarapan.

Baca Juga :  Bechi, Kultus, dan Kekerasan Seksual

Jadi otak kamu mengotomatiskan semua itu dan itu hal yang bagus.

Tapi ada harga yang harus dibayar.

Wendy Wood, seorang profesor psikologi dari University of Southern California yang sudah puluhan tahun meneliti perilaku manusia, menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan: sekitar 43% dari aktivitas harian kita dilakukan secara otomatis tanpa kita benarbenar “memutuskan” untuk melakukannya.

Hampir setengah dari hidupmu. Berjalan di autopilot.

Scroll HP begitu alarm bunyi sebelum kamu bahkan sepenuhnya sadar.

Langsung buka Instagram, WhatsApp, atau aplikasi tertentu setiap kali ada jeda di dalam obrolan.

Ngemil setiap kali menonton film, bukan karena lapar, tapi karena dua hal itu sudah terikat jadi satu paket di otak kamu.

Semua itu terjadi bukan karena kamu memilihnya.

Semua itu terjadi karena otak kamu sudah terlalu terlatih untuk melakukannya sampai kamu nggak sadar lagi bahwa kamu sedang melakukannya.

Ada analogi yang cukup pas untuk menggambarkan peristiwa ini: ikan nggak sadar bahwa dirinya hidup di dalam air.

Bukan karena ikan itu bodoh tapi karena air sudah menjadi bagian dari setiap momen hidupnya. Terlalu dekat untuk terlihat.

Kebiasaan kita bekerja persis seperti itu. Yang paling mempengaruhi hidup kita, justru yang paling susah kita lihat karena kita sudah terlalu terbiasa dengannya.

Baca Juga :  End The Summer with Serenity at Calabash Cove Resort And Spa

Masalah sebenarnya: kamu mencoba memperbaiki yang Kamu Bahkan Nggak Lihat

Di sinilah banyak usaha perubahan kandas sebelum sempat bermula.

Kita terlalu fokus pada hasil yang ingin kita ubah; badan lebih sehat, lebih produktif, lebih tenang tapi kita jarang berhenti cukup lama untuk melihat pola apa yang selama ini menghasilkan hasil tersebut.

James Clear dalam Atomic Habits menyebut ini sebagai salah satu akar masalah kenapa orang gagal membangun kebiasaan baru: mereka mencoba mengubah perilaku yang bahkan belum mereka sadari sepenuhnya.

Charles Duhigg, penulis The Power of Habit, juga sampai pada kesimpulan serupa setelah bertahun-tahun meneliti tentang kebiasaan.

Ia menyebut bahwa kebiasaan itu tidak pernah benar-benar hilang dari otak, ia hanya tertidur. Dan selama kamu tidak sadar akan keberadaannya, kamu tidak bisa memilih kapan ia aktif dan kapan tidak.

Kamu nggak bisa memperbaiki sesuatu yang kamu bahkan nggak tahu sedang rusak.

Ini bukan Soal Niat tapi Ini Soal Titik Buta

Setiap kali seseorang gagal berubah, narasi yang paling sering muncul adalah: “Aku kurang disiplin” atau “Aku memang nggak bisa konsisten.”

Tapi coba pikir lagi.

Bagaimana kamu bisa melawan sesuatu yang bahkan tidak kamu lihat? Kebiasaan yang sudah otomatis itu seperti arus bawah laut.

Kamu berenang dengan sekuat tenaga ke arah yang kamu mau, tapi ada sesuatu yang terus menarik kamu kembali dan kamu nggak pernah benar-benar sadar dari mana tarikan itu datang.

Baca Juga :  Manusia sebagai Makhluk Berpikir, Tapi Kok?

Carl Jung, psikolog yang pemikirannya masih relevan sampai sekarang, pernah menulis sesuatu yang berat tapi jujur:

“Sampai kamu sadarkan yang tidak disadari, itu akan terus mengatur hidupmu dan kamu akan menyebutnya takdir.”

Banyak hal yang kita anggap sebagai “sifat bawaan” atau “ya emang gue gini ” sebenarnya adalah kebiasaan yang sudah terlalu lama berjalan tanpa pernah kita periksa. Bukan takdir.

Bukan karakter yang permanen. Hanya pola yang belum pernah kita lihat dengan cukup jelas.

Satu hal yang penting sebelum kita melangkah lebih jauh.

Melihat kebiasaan diri sendiri itu bukan berarti kamu harus langsung merasa bersalah atau malu. Ini bukan tentang menghakimi diri sendiri ini tentang menjadi saksi yang jujur bagi diri sendiri.

Sama seperti dokter yang perlu tahu diagnosisnya sebelum memberikan obat. Proses melihat itu sendiri adalah langkah terapeutik, bukan langkah yang menyakitkan.

Dan justru di sinilah banyak orang melewatkan sebuah langkah kecil tapi krusial: sebelum mencoba mengubah kebiasaan, lihat dulu dengan jelas kebiasaan apa yang sedang kamu jalani.

Lalu, Mulai dari Mana?

Langkah pertama bukan mengubah kebiasaan.

Langkah pertama adalah melihatnya secara sadar, tanpa filter, tanpa pembenaran.

Dan ternyata ada cara yang sangat sederhana untuk melakukan itu. Sebuah metode yang bahkan sudah digunakan oleh pekerja kereta api di Jepang selama puluhan tahun untuk mencegah kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disadari.

Metode ini ternyata punya rahasia menarik loh. Mau tahu apa kelanjutannya dan bagaimana cara menerapkannya? Tunggu pembahasannya

Follow WhatsApp Channel theambyar.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!
Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru
Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu
Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai
Di Balik Reruntuhan Pakungwati, Ada Kisah Cinta dan Awal Peradaban Islam Cirebon!
BP3 Cirebon Gelar Lomba Renang, Latih Mental Anak
AI Tidak Bisa Gantikan Peran Guru
Awalnya Kosong, Tapi Akhirnya Saya Mengerti Makna Toleransi
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

10 − five =

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kenapa Kita Susah Berubah?

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai

Berita Terbaru

Artikel

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Kamis, 29 Okt 2026 - 10:00 WIB

Artikel

Kenapa Kita Susah Berubah?

Minggu, 25 Okt 2026 - 10:00 WIB