CIREBON — Aroma tanah basah bercampur wangian dupa samar menyambut kedatangan kami saat melangkah masuk ke area belakang kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon. Di balik kemegahan bangunan utama yang berdiri anggun, terdapat sebuah gerbang bata merah berlumut yang memisahkan garis waktu modern dengan masa lalu.
Tempat ini adalah Dalem Agung Pakungwati, cikal bakal sekaligus keraton pertama yang menjadi titik nol peradaban Islam di pesisir utara Jawa Barat. Melalui reportase langsung dari situs suci ini, kami menelusuri kembali rekam jejak kejayaan masa lalu yang kini mewujud dalam bentuk puing-puing sunyi yang sakral.
Langkah kaki kami terhenti di depan sebuah struktur gerbang bentar bergaya Hindu-Majapahit yang eksotis. Menemani perjalanan kami di lapangan, Mohammad Derry Jamaludin, seorang Aktivis Budaya Cirebon, mengusap perlahan susunan bata merah kuno tanpa plester tersebut.
Derry menjelaskan bahwa pada tahun 1430 M, Pangeran Cakrabuana (Raden Walangsungsang) mendirikan istana sederhana ini setelah meninggalkan takhta Pajajaran demi memeluk Islam. Namun, ada kisah emosional yang mendalam di balik penamaannya.
“Banyak orang mengira ini hanya nama tempat, padahal ini adalah monumen cinta seorang ayah kepada putrinya,” ujar Derry sambil menunjuk ke arah reruntuhan kamar utama. Pangeran Cakrabuana mendedikasikan istana ini untuk putri sulungnya, Ratu Dewi Pakungwati, yang kelak dipersunting oleh Sunan Gunung Jati. Pernikahan agung inilah yang menyatukan trah kekuasaan lokal dengan jaringan ulama internasional.
Mata kami pun dimanjakan oleh detail arsitektur lokal yang unik. Karakter dinding pembatas situs ini menggunakan teknik kosod, yaitu menggosokkan satu bata dengan bata lainnya hingga merekat sempurna menggunakan media air, tanpa semen.
“Lihat bagaimana para pendahulu kita meletakkan toleransi dalam arsitektur,” kata Derry. “Bentuk fisiknya sangat Hindu-Majapahit, tetapi tata ruangnya mengadopsi konsep sufi yang mengutamakan kesunyian. Akulturasi budaya ini membuktikan bahwa Islam masuk ke Cirebon tidak dengan cara meruntuhkan budaya lama, melainkan merangkul dan mewarnainya dari dalam.”
Namun, dinamika politik mulai mengguncang ketenangan Pakungwati ketika memasuki akhir abad ke-17. Pasca-wafatnya Panembahan Girilaya, intervensi kolonial dan konflik internal memaksa kesultanan dibagi demi menghindari perang saudara pada tahun 1677 M.
Derry menceritakan momen krusial tersebut dengan nada bicara yang lebih berat, “Pembagian wilayah mengubah segalanya. Pangeran Raja Martawijaya sebagai putra tertua menetap di sini dan menyandang gelar Sultan Sepuh I.
Sejak momen pelantikan itulah, nama Keraton Pakungwati resmi berganti menjadi Keraton Kasepuhan, sementara adiknya membangun Keraton Kanoman.” Kunjungan lapangan kami berakhir di area Sumur Kejayaan, sebuah sumur kuno berpagar bata merah yang airnya masih jernih hingga saat ini.
“Dalem Agung Pakungwati adalah pengingat abadi bahwa dari kesederhanaan batu bata merah inilah sebuah peradaban besar, toleransi budaya, dan syiar Islam Nusantara bermula.
Kita tidak boleh membiarkan sejarah ini terkubur oleh zaman,” pungkas Derry menutup sesi wawancara sore itu. Kami kemudian diajak bergeser menuju sebuah pendopo terbuka yang rindang. Di bawah kepemimpinan Sunan Gunung Jati yang naik takhta pada tahun 1479 M, fungsi Keraton Pakungwati mengalami transformasi spiritual yang luar biasa besar.
Istana ini tidak lagi sekadar menjadi pusat birokrasi pemerintahan daerah. Derry menjelaskan dengan antusias, “Di titik tempat kita berdiri sekarang, dahulu para Wali Songo berkumpul. Keraton Pakungwati di masa Sunan Gunung Jati menjelma menjadi markas komando dakwah Islam terbesar di Nusantara. Dari ruang-ruang rapat rahasia di dalam istana ini, strategi syiar Islam dirumuskan dan para dai disebar ke berbagai penjuru tanah Jawa.”















Komentar