Di Balik Reruntuhan Pakungwati, Ada Kisah Cinta dan Awal Peradaban Islam Cirebon!

- Penulis

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:07 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Dukung Pembangunan Pondok Pesantren Al Muhajirin

CIREBON — Aroma tanah basah bercampur wangian dupa samar menyambut kedatangan kami saat melangkah masuk ke area belakang kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon. Di balik kemegahan bangunan utama yang berdiri anggun, terdapat sebuah gerbang bata merah berlumut yang memisahkan garis waktu modern dengan masa lalu.

Tempat ini adalah Dalem Agung Pakungwati, cikal bakal sekaligus keraton pertama yang menjadi titik nol peradaban Islam di pesisir utara Jawa Barat. Melalui reportase langsung dari situs suci ini, kami menelusuri kembali rekam jejak kejayaan masa lalu yang kini mewujud dalam bentuk puing-puing sunyi yang sakral.

Langkah kaki kami terhenti di depan sebuah struktur gerbang bentar bergaya Hindu-Majapahit yang eksotis. Menemani perjalanan kami di lapangan, Mohammad Derry Jamaludin, seorang Aktivis Budaya Cirebon, mengusap perlahan susunan bata merah kuno tanpa plester tersebut.

Derry menjelaskan bahwa pada tahun 1430 M, Pangeran Cakrabuana (Raden Walangsungsang) mendirikan istana sederhana ini setelah meninggalkan takhta Pajajaran demi memeluk Islam. Namun, ada kisah emosional yang mendalam di balik penamaannya.

Baca Juga :  Bullying: Pengertian, Penyebab, Macam dan Dampaknya

“Banyak orang mengira ini hanya nama tempat, padahal ini adalah monumen cinta seorang ayah kepada putrinya,” ujar Derry sambil menunjuk ke arah reruntuhan kamar utama. Pangeran Cakrabuana mendedikasikan istana ini untuk putri sulungnya, Ratu Dewi Pakungwati, yang kelak dipersunting oleh Sunan Gunung Jati. Pernikahan agung inilah yang menyatukan trah kekuasaan lokal dengan jaringan ulama internasional.

Mata kami pun dimanjakan oleh detail arsitektur lokal yang unik. Karakter dinding pembatas situs ini menggunakan teknik kosod, yaitu menggosokkan satu bata dengan bata lainnya hingga merekat sempurna menggunakan media air, tanpa semen.

“Lihat bagaimana para pendahulu kita meletakkan toleransi dalam arsitektur,” kata Derry. “Bentuk fisiknya sangat Hindu-Majapahit, tetapi tata ruangnya mengadopsi konsep sufi yang mengutamakan kesunyian. Akulturasi budaya ini membuktikan bahwa Islam masuk ke Cirebon tidak dengan cara meruntuhkan budaya lama, melainkan merangkul dan mewarnainya dari dalam.”

Baca Juga :  Selamat Hari "Pesantren" Pendidikan Nasional

Namun, dinamika politik mulai mengguncang ketenangan Pakungwati ketika memasuki akhir abad ke-17. Pasca-wafatnya Panembahan Girilaya, intervensi kolonial dan konflik internal memaksa kesultanan dibagi demi menghindari perang saudara pada tahun 1677 M.

Derry menceritakan momen krusial tersebut dengan nada bicara yang lebih berat, “Pembagian wilayah mengubah segalanya. Pangeran Raja Martawijaya sebagai putra tertua menetap di sini dan menyandang gelar Sultan Sepuh I.

Sejak momen pelantikan itulah, nama Keraton Pakungwati resmi berganti menjadi Keraton Kasepuhan, sementara adiknya membangun Keraton Kanoman.” Kunjungan lapangan kami berakhir di area Sumur Kejayaan, sebuah sumur kuno berpagar bata merah yang airnya masih jernih hingga saat ini.

“Dalem Agung Pakungwati adalah pengingat abadi bahwa dari kesederhanaan batu bata merah inilah sebuah peradaban besar, toleransi budaya, dan syiar Islam Nusantara bermula.

Baca Juga :  Public Speaking: Mengulik Dua Pandangan ala Stephen E. Lucas dan John A. Daly

Kita tidak boleh membiarkan sejarah ini terkubur oleh zaman,” pungkas Derry menutup sesi wawancara sore itu. Kami kemudian diajak bergeser menuju sebuah pendopo terbuka yang rindang. Di bawah kepemimpinan Sunan Gunung Jati yang naik takhta pada tahun 1479 M, fungsi Keraton Pakungwati mengalami transformasi spiritual yang luar biasa besar.

Istana ini tidak lagi sekadar menjadi pusat birokrasi pemerintahan daerah. Derry menjelaskan dengan antusias, “Di titik tempat kita berdiri sekarang, dahulu para Wali Songo berkumpul. Keraton Pakungwati di masa Sunan Gunung Jati menjelma menjadi markas komando dakwah Islam terbesar di Nusantara. Dari ruang-ruang rapat rahasia di dalam istana ini, strategi syiar Islam dirumuskan dan para dai disebar ke berbagai penjuru tanah Jawa.”

 

Follow WhatsApp Channel theambyar.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!
Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru
Kenapa Kita Susah Berubah?
Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu
Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai
Bukan Sekadar Kawasan Tua, Pecinan Cirebon Disiapkan Jadi Magnet Wisata Baru
BP3 Cirebon Gelar Lomba Renang, Latih Mental Anak
Logo MI Hidayatus Shibyan Talun dan Theambyar.id
Berita ini 39 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

eighteen + 11 =

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kenapa Kita Susah Berubah?

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai

Berita Terbaru

Artikel

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Kamis, 29 Okt 2026 - 10:00 WIB

Artikel

Kenapa Kita Susah Berubah?

Minggu, 25 Okt 2026 - 10:00 WIB