CIREBON – Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terus mematangkanlangkah untuk menyulap kawasan Pecinan menjadi destinasiwisata sejarah dan budaya unggulan. Pembenahan kawasan ini sebenarnya telah diinisiasi sejak 2025 lalu melalui pembangunan gapura khas Pecinan sebagai penanda utama, dan kini makin dipacu seiring suksesnya penyelenggaraan Festival Kue Bulan 2026.
Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, menyampaikan pada Jumat bahwa gelaran budaya tersebut menjadi pemicu utama untuk mengakselerasi pembentukan kawasan wisata Pecinan secara nyata.
Menurutnya, proses pengerjaan akan dilakukan secara berkesinambungan dengan titik awal penataan dimulai dari Jalan Winaon, sebelum nantinya meluas ke Jalan Kanoman, Lemahwungkuk, Jalan Talang, hingga kawasan Vihara Dewi Welas Asih. Karakteristik area ini dinilai sangat unik karena berada di dalam satu ekosistem yang berdampingan langsung dengankawasan keraton dan pusat perdagangan tradisional.
Guna memastikan proyek berjalan harmonis, Disbudpar telah menjalin dialog intensif bersama warga lokal, para pedagang, pihak keraton, serta komunitas Tionghoa. Seluruh pemangku kepentingan telah menyatakan dukungan penuh terhadaprencana revitalisasi tersebut.
Dalam waktu dekat, Disbudpar bersama komunitas Tionghoa akan kembali duduk bersama untuk merumuskan evaluasi, pembagian peran kerja, hingga penyusunan masterplan secara menyeluruh yang selanjutnya akan diserahkan kepada Wali Kota Cirebon demi mengamankan dukungan regulasi dan anggaran.
Langkah strategis ini juga menjadi bagian dari upaya Pemkot Cirebon dalam mendongkrak angka kunjungan pelancong ke Kota Udang. Sektor pariwisata daerah ini mencatatkan trenpositif, di mana pada semester pertama tahun ini jumlah kunjungan wisatawan telah menembus angka 2,67 juta orang. Melalui penataan wajah baru kawasan Pecinan yang tetap mempertahankan nilai histori dan kebudayaannya, pemerintah optimistis daya tarik wisata Kota Cirebon akan makin kuatdan beragam.















Komentar