Home / Agama / Artikel

Jumat, 17 Februari 2023 - 07:00 WIB

Maulid Nabi: Bid’ah, Benarkah ! (Part 3)

Tentu kita semua mengerti bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah sebuah kewajiban. Lalu, bagaimana mungkin kita tidak bergembira saat berjumpa dengan bulan Maulid. Bulan dimana Sang Nabi Agung Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan.

Tanyakan pada dirimu, Tanyakan pada jiwamu, Tanyakan pada hatimu, Pernahkah saat kau mendengar atau membaca lantunan pujian sholawat pada Nabi, tiba-tiba hawa sejuk menyelimuti tubuhmu lalu cinta dan rindu memuncak hingga tiba-tiba air matamu menetes tidak terbendung?

Lalu, bagaimana mungkin kita tidak GEMBIRA untuk merayakan Maulid dengan membaca puji-pujian kepad Rasulullah? Tidakkah pernah kita baca, bahwa dalam Al-Qur’an telah difirmankan:

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Baca Juga :  Tak Terlihat Tapi Berbahaya: Dampak PMO pada Otak dan Jiwa Anda!

Apa artinya? Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka BERGEMBIRA. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (Yunus 58) Lalu apa karunia & rahmat terbesar yg Allah berikan?

Tentu saja karunia dan rahmat terbesar bagi kita adalah kelahiran Nabi Agung Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidakkah Maulid Baginda Rasulullah membuat hati kita gembira? Lupakah kalian Bahwa Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi?

Katakan pada saya, bagaimana mungkin kita tidak GEMBIRA untuk merayakan Maulid? Lupakah kalian atas sabda Baginda Rasulullah:

Baca Juga :  Public Speaking: Mengulik Dua Pandangan ala Stephen E. Lucas dan John A. Daly

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ

Katakan pada saya, bagaimana mungkin kita tak GEMBIRA untuk merayakan Maulid? Lupakah kalian atas sabda Baginda Rasulullah,

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ

Apa artinya? “Para Nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia, dan aku diberikan syafa’at”. Lupakah kalian akan semua itu? Tidak, sekalipun jangan pernah lupakan hal itu.

Bagaimana mungkin kita tidak GEMBIRA untuk merayakan Maulid, sedangkan dalam Al-Qur’an, telah difirmankan bahwa Nabi Isa bin Maryam telah memberi kabar GEMBIRA akan datangnya seorang Rasul yang akan datang sesudah Nabi Isa, yang namanya Ahmad.

Baca Juga :  Niat? Apasih Maksudnya?

MAKA RAYAKANLAH! Rayakanlah Hari Maulid dengan penuh keagungan, penuh rasa hormat, penuh cinta, penuh rindu, penuh kekhusyukan melantunkan puji-pujian sholawat terhadap Baginda Nabi. Allahumma sholli wa sallim ‘ala Sayyidina wa Maulana Muhammad.

Perdebatan tentang hukum merayakan Maulid harus dihentikan. Biarkan yang Anti Maulid dan yang Pecinta Maulid berjalan dengan harmoninya masing-masing. Jangan ada saling caci-maki apalagi hingga saling melaknat. BIARKAN SEMUANYA BERJALAN DENGAN HARMONINYA MASING-MASING.

Ingatlah! Selalu ingatlah! Bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus BUKAN untuk menjadi PELAKNAT, tetapi aku diutus sebagai RAHMAT.” Allahumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad. SELAMAT MERAYAKAN MAULID NABI.

diambil dari: thread@CeritaGuruadeirra

Share :

Baca Juga

Artikel

Memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Lahirnya Bahasa Indonesia!

Artikel

Tak Terlihat Tapi Berbahaya: Dampak PMO pada Otak dan Jiwa Anda!

Artikel

Kenali Diri Sebelum Pacaran

Agama

Anggap Saja Kita yang Salah Dengar

Artikel

Mengubah Gugup Menjadi Gairah: Seni Berbicara yang Memikat Audiens

Artikel

Akar Pemicu Konflik Iran dan AS: Mengapa Ketegangan Keduanya Mengancam Stabilitas Dunia?

Agama

Tidur Sepanjang Hari Saat Puasa Ramadan: Apakah Batal atau Tetap Sah?

Agama

Pengertian Tabligh dan Dalil-Dalilnya dalam Islam