Home / Agama / Artikel / ngaji akhlak

Selasa, 24 Februari 2026 - 09:00 WIB

Ngaji Bareng: Maqashidus Shaum #1

Pada artikel kali ini kita akan mengupas makna dari isi kitab kuning sekaligus ngaji kitab kuning. Kenapa istilah ini dinamakan kitab kuning? Karena memang awalnya dulu di Nusantara kitab-kitab itu datang kertasnya berwarna kuning.

Kalau sekarang, dengan semakin berkembangnya teknologi itu kitabnya ada yang melalui kertas putih, ada juga yang melalui gadget. Tapi istilah itu masih familiar di kalangan pesantren dengan istilah kitab kuning. Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas  kitab Maqasidus Saum karangan Al Imam Izzuddin Ibnu Abdus Salam.

Beliau seorang ulama besar dengan julukan Sultanul Ulama. Kalau di dunia tasawuf ahlusunah wal jamaah ada Sultanul Auliya. itu Syekh Abdul Qadir Aljilani yang terkenal di dunia fikih. Dalam mazhab Syafi’i ada ulama yang mendapat gelar Sultanul Ulama.

Beliau bernama Syekh ee Isuddin bin Abdus Salam. Karena penguasaan beliau terhadap ilmu-ilmu Islam yang sangat luas sampai-sampai beliau mendapat gelar julukan Sultanul ulama.

Bismillahirrahmanirrahim. Kenapa setiap ulama mengawali kitabnya dengan bismillah, kemudian solawat, salam dan sebagainya.

Para beliau itu berpegang teguh pada hadis Nabi yang menyampaikan bahwa setiap kebaikan yang tidak diawali dengan bismillah dan di hadis lain nanti dengan alhamdulillah juga kebaikan itu nilai kebaikannya tidak maksimal. Maka demi menjaga agar kebaikan-kebaikan ini maksimal, para ulama salaf selalu mengawali kitab-kitabnya dengan bismillahirrahmanirrahim.

Nah, bismillah itu sendiri bermakna bahwa kit aitu mengakui atau memulai semua kebaikan ini dengan mengatasnamakan Allah. Maka bismillah itu makruh dibaca ketika kita melakukan hal-hal yang tidak baik.

Dalam bismillah dijelaskan Allah itu arrahman yang maha pengasih yang selalu menyayangi atau mengasihi hambanya baik yang mukmin maupun yang kafir. Maka di dunia ini Allah tidak pandang bulu dalam hal memberikan kasih sayangnya, dalam hal memberikan rahmatnya.

Kafir maupun muslim, dia berhak atau akan mendapatkan kasih sayang Allah. Nah, salah satu gambaran yang paling gampang kita cerna, bukti bahwa Allah menyayangi kita tanpa pandang bulu adalah jangankan orang yang kafir dalam konteks agama Islam ya.

Baca Juga :  Ekstrovert dan Introvert: Kepribadian Kamu yang Mana?

Kita yang muslim saja, ketika kita sering melakukan maksiat, sering berdosa, sering mengabaikan perintah Allah, Allah tidak langsung menghukum kita.

Allah memberi kesempatan kepada kita untuk kemudian bertobat, untuk kemudian menyesali perbuatan itu dan meminta ampunan.

Nah itulah bukti kalau Allah itu sangat menyayangi kita semua makhluknya. Apapun keyakinan kita, apapun kelakuan kita, Allah tetap menerapkan sifat Rahmannya di dunia ini.

Nah, kalau di akhirat Allah bersifat arrahim, hanya menyayangi mereka yang beriman, termasuk yang beriman yang juga sering berbuat dosa.

Berapapun kita punya banyak dosa, kalau kita beriman tentu Allah akan menyayangi kita. Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah para pelaku dosa yang beriman itu berpotensi mendapat syafaat dari Rasulullah.

Bisa jadi syafaat itu datang berkat dulu waktu di dunia, karena kita membaca banyak solawat atau banyak melakukan kebaikan, suka menolong orang dan sebagainya. Nah, kalau orang-orang kafir yang meninggal dalam keadaan kafir terhadap Allah, maka mereka selesai sudah tidak mendapat kasih sayang Allah di akhirat.

Dan kemudian yang kedua di sini menarik dalam kitab ini tidak diawali dengan hamdalah. Kenapa? Karena berarti musonif sudah menganggap cukup dengan membaca bismillah sudah melakukan memuji Allah.

Karena bismillah sendiri isinya adalah juga pujian kepada Allah. Dalam kitab-kitab lain hamdalah juga disertakan alhamdulillahiabbil alamin dan seterusnya.

Di sini langsung solawat memohonkan selawat kepada Allah untuk. Kenapa selawat dibaca atau dituliskan dalam setiap kitab?

Banyak hadis-hadis menjelaskan yang kurang lebih maknanya demikian. “Barang siapa membaca selawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberinya 10 kali selawat atau 10 kali rahmat.”

Karena dari Allah itu solawat berupa rahmat. Siapa yang membacakan solawat untuk Rasulullah satu kali, maka Allah akan membalasnya dengan 10 rahmat.

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga menjelaskan bahwa yang terbaik di antara kalian adalah dia yang paling banyak membaca selawatnya untukku di akhirat nanti.

Baca Juga :  Insecure? Yuk Cari Tau Penyebabnya!

Yang terbaik di antara kalian di akhirat nanti adalah dia yang paling banyak membaca solawat untukku. Kata Rasulullah dalam sebuah hadis.

Nah, ada juga hadis yang menyatakan, “Barang siapa yang menuliskan lafaz solawat pada sebuah buku, maka Allah akan terus memberikan pahala selawat itu selama tulisan itu tidak dihapus.” Akan terus memberikan rahmat kepada yang menulis solawat itu selama tulisan itu belum terhapus.

Kitab ini menjelaskan atau akan menjelaskan 10 fashal. Alfaslul awalu fasal pertama fi wujubihi ing dalam wajib puasa.

Nah, di awal kitabnya Syekh Izuddin bin Abdul Salam menjelaskan tentang dasar diwajibkannya puasa. Kenapa puasa itu wajib? Beliau mendasarkan memberi menyampaikan bahwa dasar diwajibkannya puasa adalah firman Allah.

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian sehingga dengan puasa itu kalian akan menjadi orang-orang yang bertakwa. Dalam ayat ini setidaknya banyak pembahasan tentunya, tapi saya akan fokus pada dua pembahasan.

Pertama bahwa Allah menggunakan lafaz ya ayyuhalladzina amanu. Ini panggilan-panggilan istimewa, panggilan khusus. Seorang guru ketika mengabsen muridnya ketika hanya menyebut nama-namanya saja itu kan biasa.

Tapi ketika ada panggilan istimewa, anak-anak yang rajin, anak yang pintar, anak-anakku sayang dan sebagainya, itu menunjukkan bahwa anak-anak itu atau siswa itu menjadi siswa prioritas, siswa yang paling disenangi oleh guru dan sebagainya.

Nah, di sini Allah sedang menunjukkan bahwa orang-orang beriman itu menjadi orang-orang yang paling dikasihi Allah dengan cara dipanggil secara istimewa untuk mendapatkan perintah istimewa, yaitu puasa.

Menariknya, puasa ini adalah salah satu dari beberapa syariat yang berlaku juga pada nabi-nabi sebelumnya. dari syariatnya Nabi Muhammad itu ada beberapa syariat yang memang muncul hanya pada Rasulullah untuk umatnya.

Ada yang juga dari syariat-syariat zaman dulu memang sudah berlaku. Salah satunya puasa dan di keterangan kitab-kitab lain termasuk nikah. Nikah itu bahkan dari zaman-zaman nabi terdahulu dari mulai Nabi Adam di surga sampai nanti di akhirat masih berlaku.

Baca Juga :  Sifat Ghadab? Gimana sih Cara Menghindarinya

Kalau puasa itu dari zaman-zaman terdahulu dan hanya di dunia saja, di akhirat tidak ada berpuasa, tidak ada syariat puasa.

Apakah kemudian puasanya kita yang secara umum misalnya dari se keluarnya fajar siddiq sampai terbenamnya matahari tidak boleh makan, minum dan melakukan hal-hal yang dilarang bagi orang berpuasa yang nanti akan dijelaskan ke pasal berikutnya.

Apakah puasanya umat-umat terdahulu dari nabi-nabi terdahulu itu semacam demikian atau tidak? Banyak sekali pembahasan yang tentu bukan di pada saat kajian ini disampaikan.

Yang jelas bahwa umat-umat nabi terdahulu pun diwajibkan atau ada syariat diberlakukannya kewajiban berpuasa. Puasa yang sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Kenapa? Karena puasanya seseorang itu akan menjadi sebab orang mendapatkan pengampunan dari dosa-dosa yang dia lakukan.

Padahal dosa itu kategori dosa yang memastikan orang itu masuk neraka. Seseorang melakukan dosa secara syariat, oleh Allah dipastikan orang melakukan dosa itu, dia akan diwajibkan masuk neraka dan pasti masuk neraka.

Tapi dengan puasa yang benar, Allah akan mengampuni dosa itu sehingga orang itu tidak jadi masuk neraka.

Dalam hadis sahih dijelaskan riwayat imam bukhari dan muslim “Puasa adalah hadis sahih lafaznya beda-beda, di sini yang disampaikan oleh dalam kitab ini adalah Islam itu dibangun atas lima dasar atau lima pondasi pokok.

Pertama, menyembah Allah dan ingkar atau tidak menyembah selain Allah. Yang kedua, menjalankan salat, mendirikan salat.

Nanti dalam menjalankan salat juga banyak pembahasan apakah cukup hanya dengan menjalankan salat. Kemudian membayarkan zakat, baik zakat fitrah, zakat mal, dan zakat lainnya.

Kemudian pergi haji ke Baitullah itu juga pondasi Islam atau yang nanti disebut dengan rukun Islam. Dan menariknya di hadis-hadis tentang rukun Islam, puasa Ramadan selalu di akhir.

Haji itu di nomor empat. Kenapa? Karena hadis ini diturunkan di Makkah dan pada waktu itu melakukan haji jelas lebih mudah daripada puasa Ramadan. Melakukan haji hanya 6 hari sebenarnya sudah cukup selesai. Kalau tinggal di Makkahnya ya.

Sementara Ramadan dan berpuasa itu ya menahan lapar selama 1 bulan kan. Maka kalau di Indonesia rukun Islam itu ada lima, tapi haji dibelakangkan. Kenapa? Karena orang Indonesia hajinya susah, antriannya panjang.

Tonton versi video lengkapnya dibawah ini:

 

Share :

Baca Juga

Artikel

Memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Lahirnya Bahasa Indonesia!

Artikel

Kegagalan Adalah Awal dari Segalanya Bukan Akhir!

Artikel

Acrophobia? Apakah Kamu Juga Mempunyai Pobia Ini?
MUHARRAM

Agama

1 Muharram Akan Tiba! Apa saja Amalan-Amalannya?

Artikel

Siapa Sih Sosok Mustafa Kemal Atatürk?
Bersyukur

Artikel

Bersyukur? Pengertian dan Contohnya, Yuk Simak!

Artikel

Bechi, Kultus, dan Kekerasan Seksual

Agama

Kenapa Bersyukur Bisa Mengubah Hidupmu?