Suluk Ramadhan

- Penulis

Kamis, 20 April 2023 - 07:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

๐Ÿ™ Dukung Pembangunan Pondok Pesantren Al Muhajirin

Memurnikan niat dan aksi dari pujian atau setidaknya “diketahui” sesama adalah pekerjaan yang tidak mudah, berpuasa adalah cara Tuhan mengajarkan kita untuk belajar ikhlas melakukan suatu perbuatan tanpa pujian orang lain; sebegitu rahasia-nya, sehingga pengakuan bahwa engkau “berpuasa” bukan suatu ukuran yang bisa dinilai oleh siapapun.

Bukan hanya pada soal pujian bahkan pada soal hasil sekalipun. Engkau beribadah tak lagi membincang soal hasil, mau diterima atau tidak bukan urusanmu. Pada titik ekstrem, engkau tak lagi mempedulikan syurga atau neraka. Tugasmu hanya melayani Dia karena engkau adalah Abdullah; Hamba Allah.

Dalam hadits Qudsi, Dia berfirman: “Seluruh amal manusia untuknya kecuali puasa. puasa itu untukku dan Aku yang akan membagikan ganjarannya”.

Statement ini sangat gamblang. clear. tak perlu penjelasan. Dialah sang pemegang otoritas tunggal bukan hanya atas penilaian puasa seseorang tetapi juga yang paling berhak membagikan ganjaran puasa.

Baca Juga :  Ngantuk Saat Puasa? Inilah Tips Agar Tetap Produktif dan Ibadah Lebih Afdol!

Kita mau apa?

Maka, tangkaplah pesan tersembunyi mengenai keikhlasan, bahwa engkau hanya menjalani, hanya melakukan, hanya berkarya. Berkarya itu orientasinya proses bukan hasil. Hasil itu bukan urusanmu. hasil itu urusan Dia. bahkan ketika engkau berhasil memperoleh target, sejatinya Dia yang menentukan.

Lalu buat apa menyusun perencanaan?

Mari kembali pada fokus tulisan ini? tema besarnya soal keikhlasan. perencanaan tetap bagian yang harus engkau siapkan. Tetapi bila engkau menjadikan Hasil itu sebagai “wajib terwujud”, maka engkau akan terjebak pada dua kondisi yang mengerikan:

1). Kejumawaan; bahwa semua hasil yang engkau peroleh itu semata-mata karena dirimu. Engkau bekerja, engkau tak wajib kaya. Engkau belajar, engkau tak wajib pintar. Bila kekayaan dan kepintaran itu sesuatu yang wajib, maka saat keduanya engkau peroleh karena pekerjaan dan belajarmu, akan ada perasaan jumawa semua itu kau raih semata-mata karena dirimu.

Baca Juga :  Berdoโ€™a Sebelum Beraktivitas: Kecil tapi Berdampak Besar

2). Kekecewaan; bahwa semua hasil yang engkau peroleh itu semata-mata karena dirimu. Faktanya, Engkau bekerja lalu tak kaya-kaya. Engkau belajar lalu tak pintar-pintar. Apa yang berikutnya terjadi? Engkau terjatuh pada kekecewaan diri lalu mengalamatkan kesalahan pada dirimu, engkau sesali itu tak kunjung akhir. Engkau terjebak pada nafsu lawwamah, di mana guilty feeling (rasa bersalah) menguasai dirimu.

Puasa mengajarkan keseimbangan.

Engkau memulai puasa dengan niat. niat itu mengandung perencanaan yang matang dan spesifik. Di dalam niat engkau menyebutkan akan berpuasa di esok hari, di bulan Ramadhan, di tahun ini. Lihat, betapa spesifik niat yang engkau tancapkan.

Bila dalam sebuah pekerjaan, engkau membuat perencanaan yang tidak spesifik, boleh jadi hasilnya tidak seperti yang engkau harapkan. Pada titik ini engkau tak pantas menyalahkan tuhan.

Baca Juga :  Kenapa Kita Susah Berubah?

Yang berikutnya dari niat puasa dan ini adalah Kata Kuncinya adalah statement “Lillahi Ta’la”, puasamu diorientasikan hanya karena Allah bukan karena yang lain. Engkau terbebas dari ketergantungan atau bahkan harapan yang lain-lain selain Allah. Bahkan syurga tidak berhasil menggodamu untuk mengubah niatmu. Fokusmu kepada Dia. Dia yang kau layani.

Suluk Puasa ini membebaskanmu dari kegalauan orientasi ibadah. Engkau melakukan puasa dengan ikhlas. Tidak karena takut akan dosa, juga tidak karena berharap pahala.

Bayangkan, bila suluk semacam ini engkau implementasikan dalam keseluruhan hidupmu.

akan tampak dengan jelas apa yang kau proklamirkan setiap hari:

ู‚ูู„ู’ ุฅูู†ูŽู‘ ุตูŽู„ุงุชููŠ ูˆูŽู†ูุณููƒููŠ ูˆูŽู…ูŽุญู’ูŠูŽุงูŠูŽ ูˆูŽู…ูŽู…ูŽุงุชููŠ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ

Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS Al-An’am/ 162)

 

Ayah Enha

(Pengasuh Pondok Pesasntren Motivasi Bekasi)

Follow WhatsApp Channel theambyar.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!
Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru
Kenapa Kita Susah Berubah?
Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu
Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai
Di Balik Reruntuhan Pakungwati, Ada Kisah Cinta dan Awal Peradaban Islam Cirebon!
BP3 Cirebon Gelar Lomba Renang, Latih Mental Anak
Dikhianati, tapi Harus Memaafkan?
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan ๐Ÿ˜Š

seventeen + 14 =

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kenapa Kita Susah Berubah?

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai

Berita Terbaru

Artikel

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Kamis, 29 Okt 2026 - 10:00 WIB

Artikel

Kenapa Kita Susah Berubah?

Minggu, 25 Okt 2026 - 10:00 WIB