AI Tidak Bisa Gantikan Peran Guru

- Penulis

Minggu, 6 September 2026 - 23:22 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Dukung Pembangunan Pondok Pesantren Al Muhajirin

Setiap zaman memiliki cara belajarnya sendiri. Jika dulu ilmu dicari melalui lembar demi lembar buku/kitab di rak-rak perpustakaan dan transmisi keilmuan, kini generasi muda cukup mengetikkan beberapa kata di layar gawai atau komputer. Perubahan ini tidak mungkin dihindari. Zaman betul-betul telah berubah. Transformasi digital nyata mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan, termasuk dalam mempelajari agama.

Seiring dengan perannya, pendidikan agama harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan ruh dan nilai-nilai luhurnya. Peluncuran 40 buku digital Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti oleh Kementerian Agama beberapa hari lalu merupakan bagian dari ikhtiar tersebut. Kehadiran buku digital, kelas interaktif, perpustakaan elektronik, bank soal, asesmen pembelajaran, hingga asisten berbasis Artificial Intelligence (AI) bukanlah upaya menggantikan guru. Sebaliknya, teknologi dihadirkan untuk memperluas akses belajar, memperkaya pengalaman peserta didik, dan memperkuat proses pembelajaran agama.

Baca Juga :  Syukur? Pengertian dan Macam-macamnya

Kita harus memahami bahwa anak-anak hari ini adalah generasi digital. Mereka terbiasa belajar secara cepat, interaktif, dan personal. Jika pendidikan agama tetap bertahan dengan pendekatan lama tanpa memanfaatkan teknologi, maka yang tertinggal bukanlah teknologinya, melainkan proses pendidikannya. Agama harus hadir dalam bahasa yang dipahami generasi zamannya, tanpa mengurangi kedalaman pesan yang disampaikannya.

Namun, kita juga perlu menyadari bahwa kecerdasan buatan memiliki batas. AI dapat membantu menemukan informasi, menjelaskan konsep, atau mempercepat proses belajar. Akan tetapi, AI tidak dapat menggantikan keteladanan seorang guru. Ia tidak memiliki kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup, tidak mampu menanamkan adab melalui keteladanan, dan tidak dapat membangun ikatan batin antara pendidik dan peserta didik. AI tidak mampu memberikan “personal touch” kepada peserta didik.

Baca Juga :  Malam Lailatul Qadar, Yuk cari tahu makna dan cara mendapatkannya!

Pendidikan agama pada hakikatnya bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga transformasi kepribadian. Perubahan akhlak yang semakin baik. Dalam tradisi Islam, ilmu selalu berjalan beriringan dengan adab. Seorang murid tidak hanya belajar dari isi kitab, tetapi juga dari akhlak gurunya. Karena itu, pemanfaatan AI harus ditempatkan sebagai wasilah, bukan tujuan.

Teknologi adalah alat untuk memudahkan belajar, sedangkan pembentukan karakter tetap membutuhkan sentuhan manusia yang penuh kasih sayang, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.
Inilah semangat yang ingin dibangun melalui Smart PAI. Teknologi dimanfaatkan agar pembelajaran agama menjadi lebih mudah diakses, lebih menarik, dan lebih relevan dengan kebutuhan generasi masa kini. Sementara substansi ajaran tetap bersumber pada nilai-nilai Islam yang autentik, moderat, dan berorientasi pada pembentukan akhlak mulia.

Baca Juga :  Selamat Hari Guru 2021 Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Masa depan pendidikan agama bukanlah memilih antara guru atau AI. Masa depan pendidikan adalah menghadirkan keduanya dalam sinergi yang saling menguatkan. AI menghadirkan kecepatan dan kemudahan, sedangkan guru menghadirkan hikmah dan keteladanan. Ketika teknologi dipandu oleh nilai-nilai agama, dan pendidikan agama memanfaatkan teknologi secara bijaksana, kita tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara digital, tetapi juga matang secara spiritual dan kokoh secara moral.

Di situlah pendidikan agama akan tetap relevan, bukan hanya untuk menjawab tantangan hari ini, tetapi juga untuk membangun peradaban masa depan.

Prof. Nasaruddin Umar, MA

Artikel terbit di kemenag.go.id

Follow WhatsApp Channel theambyar.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!
Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru
Kenapa Kita Susah Berubah?
Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu
Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai
Di Balik Reruntuhan Pakungwati, Ada Kisah Cinta dan Awal Peradaban Islam Cirebon!
BP3 Cirebon Gelar Lomba Renang, Latih Mental Anak
Awalnya Kosong, Tapi Akhirnya Saya Mengerti Makna Toleransi
Berita ini 53 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

six + three =

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kenapa Kita Susah Berubah?

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai

Berita Terbaru

Artikel

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Kamis, 29 Okt 2026 - 10:00 WIB

Artikel

Kenapa Kita Susah Berubah?

Minggu, 25 Okt 2026 - 10:00 WIB