Pernah nggak sih kalian sering ngerasa kesel sendiri setiap kali ada tugas numpuk, tanpa sadar malah buka TikTok, buka Instagram, buka game?
Padahal tahu tugas lagi banyak-banyaknya, tapi entah kenapa tanpa sadar membuka TikTok dan akhirnya scroll sampai berjam-jam. Pernah kan? Dan ternyata ini bukan soal malas, lho. Ini soal otak yang sudah punya “jalan tol”.
Menurut James dalam buku Atomic Habits, dia bercerita pada tahun 1898 seorang psikolog bernama Edward Thorndike. Ia bereksperimen dengan memasukkan kucing ke dalam kotak yang mempunyai tuas.
Begitu tuas ditekan, otomatis pintu terbuka dan tepat di balik pintu terdapat makanan kucing.
Awalnya kucing itu bergerak tanpa pola, mengendus-endus sudut, menggosokkan badan ke dinding, dan akhirnya tidak sengaja kakinya menginjak tuas.
Pintu pun terbuka—finally—kucing itu keluar dan yup! menemukan semangkuk makanan.
Thorndike mengulang percobaan tersebut dengan kucing yang sama, kotak yang sama, dan tuas yang sama.
Percobaan pertama kucing butuh waktu 160 detik, lalu 30 detik, 90 detik, 60 detik, semakin cepat. Dan pada percobaan ke-20, kucing itu bisa keluar dalam waktu hanya 6 detik.
Tubuhnya langsung bergerak ke tuas tanpa berpikir, tanpa coba-coba lagi.
Dulu saya juga pernah belajar naik motor. Hari pertama pastinya tegang karena tangan dan kaki harus sinkron, gas, rem, kopling, gigi, semua dipikirkan.
Tapi setelah berminggu-minggu keseimbangan sudah bagus, gas dengan rem sudah terkoordinasi [kata “terkoordinasi” adalah saran penyempurna; jika kamu punya kata lain, ganti saja]. Dan minggu, bulan, tahun pun berlalu. Sekarang naik motor bisa sambil ngobrol, bahkan bisa sambil melamun.
Yup! Sama kayak kucing Thorndike tadi. Tubuh saya sudah nggak grogi lagi.
Mereka (tubuh) sudah tahu apa yang harus dilakukan, sampai saya nggak perlu memerintahnya lagi. Sudah otomatis.
Otak kita memang didesain seperti itu. Setiap kali kita menghadapi masalah yang sama, otak akan mencari jalan pintas.
Ia merekam apa yang berhasil, lalu menyimpannya sebagai “resep”. Di lain waktu, jika masalah yang sama datang lagi, kita nggak perlu berpikir ulang dari awal. Kita bisa langsung mengeksekusi. Nah, ini yang dinamakan kebiasaan.
Jason Hreha, seorang peneliti perilaku, menyebut kebiasaan sebagai “solusi yang dapat diandalkan untuk masalah-masalah yang berulang di sekitar kita.”
Setiap kebiasaan sebenarnya adalah ingatan. Ingatan tentang langkah-langkah yang pernah berhasil di masa lalu. Misalnya: ponsel bergetar.
Tanpa pikir panjang, tangan langsung meraih dan membuka layar. Atau saat stres tiba-tiba datang, tanpa sadar jari-jari membuka media sosial, mencari video humor yang menyenangkan. Nah, itu semua adalah ingatan. Rekaman yang diputar ulang.
Proses ini disebut lingkaran umpan balik, terdiri dari empat babak yaitu: petunjuk, gairah, tanggapan, ganjaran. Petunjuk bisa berupa misal bunyi getar ponsel.
Gairahnya bisa rasa ingin tahu: apa sih isi pesannya? Tanggapannya saat kita membuka ponsel. Ganjaran ya rasa puas setelah membaca isi pesan.
Siklus ini berulang dalam sepersekian detik saja, tanpa kita sadari, lho. Kucing Thorndike juga mengalami hal yang sama.
Petunjuknya adalah berada di dalam kotak, gairahnya ingin keluar dan makan, tanggapannya menekan tuas, dan ganjarannya adalah kebebasan dan makanan yang sudah disediakan.
Setelah diulang puluhan kali, otak kucing itu tidak perlu lagi menganalisis. Ia bisa langsung ke solusi. Begitupun kita. Sama aja.
Pertanyaannya lalu: mau jadi yang kayak gimana? Kebiasaan apa yang sudah otomatis dalam hidup kita saat ini?
Apakah kita sudah mempunyai kebiasaan baik yang berjalan otomatis? Seperti misalnya otomatis minum air putih begitu bangun tidur? Atau otomatis merapikan tempat tidur?
Atau sebaliknya: kebiasaan buruk yang sudah mengakar, contohnya seperti otomatis membuka ponsel begitu bangun tidur, otomatis menunda pekerjaan, otomatis mengeluh saat deadline mepet.
Kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri karena memang kita tidak tahu ilmunya.
Tapi setidaknya kita bisa mulai sadar: mana kebiasaan yang sudah otomatis, dan apakah kebiasaan itu membawa kita ke tempat yang kita inginkan.
Karena kalau tidak, kita hanya akan berputar-putar di tempat yang sama, tahun demi tahun, tanpa ada kemajuan.















Komentar