Menghormati Anak Orang Terhormat

- Penulis

Senin, 3 Juni 2024 - 10:56 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Dukung Pembangunan Pondok Pesantren Al Muhajirin

Menghormati Orang itu Perlu!

Salah satu hal yang sangat di perlukan untuk mewujudkan keharmonisan dan kedamaian dalam pergaulan antar sesama adalah sopan santun. Di antara sopan santun adalah bahwa orang yang berusia muda sudah seharusnya menghormati yang lebih tua, sedangkan yang lebih tua menyayangi yang muda. Demikian berimbang, karena rasa kasih sayang dari orang lebih tua di balas dengan penghormatan oleh orang yang berusia muda kepadanya, demikian pula sebaliknya.

Sopan santun demikian itulah yang mampu menarik simpati hati orang lain di bandingkan memengaruhinya dengan materi. Nabi Muhammad shalla Allahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Kalian tidak dapat menjangkau semua orang dengan harta benda kalian, tetapi mereka dapat terjangkau oleh kalian dengan kecerahan wajah dan keluhuran akhlak.” (HR. al-Bazzar)

Dalam tradisi sehari-hari penghormatan bukan saja di lakukan atas dasar perbedaan usia, di mana yang muda hormat kepada yang lebih tua. Penghormatan juga di anjurkan kepada setiap orang yang menjaga kehormatannya, kepada tamu-tamu, kepada para tetangga, kepada orang-orang berilmu (kyai, alim ulama, guru, dosen, dsb), dan juga kepada orang yang sudah beruban (berusia lanjut), bahkan penghormatan kepada anak orang terhormat, meskipun usianya relatif lebih muda, pun menjadi tradisi yang terus berlangsung di tengah-tengah masyarakat kita. Seperti penghormatan terhadap anak para kyai (yang lazimnya dipanggil “gus”, “kang” dsb) di lingkungan pondok pesantren NU di Indonesia.

Baca Juga :  Public Speaking: Mengulik Dua Pandangan ala Stephen E. Lucas dan John A. Daly

Menghormati anak orang terhormat itu tentu dalam batas di mana mereka sendiri juga berupaya menjaga kehormatannya, dengan meniru orang tua atau para pendahulunya yang di hormati karena kesalehan dan kebaikannya. Yakni manakala para pendahulunya itu pun di hormati, di agungkan, dan di harapkan kebaikan “barakah”nya.

Hormatilah Orang Lain!

Namun persoalannya, tidaklah setiap anak orang terhormat itu menjaga kehormatannya. Ada di antara mereka yang karena selalu di hormati orang justru bersikap arogan, angkuh, dan mudah memandang orang lain sebelah mata alias meremehkan orang. Padahal idealnya setiap orang harus saling menghargai, karena tiada manusia yang sempurna, masing-masing orang itu ada dengan kelebihan dan kekurangannya untuk saling melengkapi.

Baca Juga :  Yuk Kenali Tipe Gaya Belajarmu!

Terhadap anak orang terhormat yang berkubang kebodohan dan di liputi kelalaian kita di anjurkan untuk menasehati dan menunjukinya ke jalan kebenaran, dan tetap menghormatinya dengan sedikit penghormatan karena menghormati para pendahulunya yang baik-baik.

Terkait dengan hal tersebut, al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Kitab al-Fushul al-‘Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hikamiyyah, halaman 53 menuliskan,

ومن كان على الجهل والغفلة فينبغي أن ينصح ويرشد إلي الصواب ويحترم شيئا من الإحترام لأجل سلفه الصالحين، وكيف لا وقد قال الله تعالى ما قال في شأن الغلامين والجدار (( وكان تحته كنز لهما وكان أبوهما صالحا ))

Baca Juga :  Selamat Hari Guru 2021 Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

“Barangsiapa yang berada dalam kebodohan dan kelalaian, maka sepantasnya di nasehati, di tunjukkan kepada kebenaran, dan sedikit di hormati karena menghormati para pendahulunya yang shaleh-shaleh. Bagaimana tidak (di hormati)? Allah ta’ala telah berfirman tentang masalah dua anak kecil dan sebuah tembok (yang hampir runtuh): “Di bawahnya ada harta simpanan milik keduanya, sedangkan bapak dari kedua anak tersebut adalah seorang yang shaleh. ”

Demikianlah, semoga kita mampu menghormati siapa saja, termasuk menghormati setiap anak orang terhormat. Hanya orang beradab dan rendah hati saja yang sanggup menghargai dan menghormati orang lain. Dan janganlah kita menjadi angkuh terhadap setiap orang yang telah bersedia memberikan penghormatannya. Perlakukan manusia lain secara lebih manusiawi. Saling menghormati saja, jangan gila hormat. Jangan terjadi suasana hati yang senang dihormati tetapi bersikap enggan menghormati.

Oleh: Ahmad Ishomuddin

 

Follow WhatsApp Channel theambyar.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!
Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru
Kenapa Kita Susah Berubah?
Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu
Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai
Di Balik Reruntuhan Pakungwati, Ada Kisah Cinta dan Awal Peradaban Islam Cirebon!
BP3 Cirebon Gelar Lomba Renang, Latih Mental Anak
Dikhianati, tapi Harus Memaafkan?
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

14 − 8 =

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kenapa Kita Susah Berubah?

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai

Berita Terbaru

Artikel

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Kamis, 29 Okt 2026 - 10:00 WIB

Artikel

Kenapa Kita Susah Berubah?

Minggu, 25 Okt 2026 - 10:00 WIB