Home / Agama / Artikel / Ngaji

Selasa, 17 Maret 2026 - 10:11 WIB

Ngaji Bareng: Maqashidus Shaum #7

Dalam artikel sebelumnya sudah dibahas tentang empat dari lima hal yang oleh Syekh Isidin bin Abdus Salam termasuk kategori hal yang harus dihindari dalam hal berpuasa.

Yang pertama yaitu alwisal, kita tidak boleh menyambung puasa sampai subuh tanpa buka di magribnya. Yang kedua, mencium atau merangkul istri itu tidak boleh ketika sedang menjalankan puasa artinya makruh.

Kemudian yang ketiga, yaitu bekam walaupun Rasulullah melakukan, sahabat juga melakukan ketika puasa. Kalau berpotensi menimbulkan kelemahan fisik atau memperparah kelemahan fisik ketika puasa, bahkan berpotensi mungkin membatalkan, maka itu makruh menurut mazhab Imam Syafi’i.

Yang keempatnya adalah menghiasi bulu mata yang di bawahnya dengan celah. Nah, yang kelima yaitu istinsak dan ini makruhnya lebih tinggi karena potensi kebablasannya lebih besar daripada ketika berkumur.

Baca Juga :  Jangan Cuma Terobsesi Sama Garis Finish: Inilah Tips Biar Targetmu Nggak Cuma Wacana

Kita tetap sunah membersihkan hidung, tetap sunah berkumur ketika wudu, tapi tidak boleh berlebihan.

Artinya berkumur yang berlebihan sampai berpotensi airnya masuk tertelan atau menyedot air ke hidung dengan kencang sampai airnya masuk ke hidung ke ujung hidung dan masuk ke tenggorokan

Nah, itu hukumnya makruh, karena berpotensi merusak puasa. Jadi intinya dari semua penjelasan tentang makruh-makruh itu, semua tindakan apapun yang berpotensi merusak puasa kita itu menjadi makruh. Tapi kalau benar-benar merusak ya jadi haram.

Kalau kita wudhu lalu menyedot air ke hidung pasti masuk sampai ke tenggorokan terasa. Dan kita sudah tahu begitu, maka kita menyedot air ke hidung ketika bulan puasanya itu sudah sudah menjadi haram, karena sudah tahu pasti bakal membatalkan puasa.

Baca Juga :  Dampak Penggunaan Media Sosial bagi Anak-Anak

Jadi memang puasa itu unik. Ada hal-hal yang sebenarnya tidak apa-apa untuk dilakukan di hari hari lain, tapi baiknya harus dihindari ketika bulan puasa.

Karena apa? Jangan sampai puasa kita ini kemudian kehilangan esensi maknanya, jangan hanya tidak makan dan tidak minum kemudian selesai.

Tapi juga esensi puasanya harus juga nampak pada menahan diri dari berbagai hal. Bukan saja yang diharamkan, tapi termasuk juga yang makruh.

Bahkan kalau para ulama-ulama tasawuf lebih ekstrem lagi. Syekh Abdul Qadir Aljailani itu sampai dalam kitabnya Jalalul Khatir sangat tegas. Berpuasalah dari pikiranmu. Puasakanlah perutmu, mulutmu, telingamu, pikiranmu, anggota badanmu, semuanya harus puasa.

Baca Juga :  Ketika Media Dikuasai Segelintir Elit: Ancaman Tersembunyi bagi Demokrasi

semuanya tidak boleh ada yang tidak melakukan puasa. Mulut enggak boleh ngomong sembarangan, telinga tidak boleh mendengarkan hal-hal yang tidak dibenarkan.

Mata tidak boleh melihat, hati tidak boleh berpikir atau otak tidak boleh berpikir yang tidak-tidak dan sebagainya. Semuanya harus ditahan dan dikuasakan.

itu konsep puasa menurut Syekh Abdul Qadir Aljilani. Nah, kalau dalam konsep fikihnya yaitu tadi menurut Syekh Isuddin bin Abdus Salam, lima hal inilah yang sebisa mungkin ditinggalkan karena bisa jadi berpotensi menjadi pintu masuk melakukan hal yang membatalkan puasa.

Tapi kalau potensi itu ada ya makruh. Tapi kalau sudah pasti melakukan itu pasti berdampak puasa batal ya jelas haram.

Tonton versi video lengkapnya dibawah ini

 

Author Profile

Naura Azzahra

Share :

Baca Juga

Artikel

Mengenal Batik Mega Mendung: Sejarah dan Maknanya

Agama

Kisah Abu Bakar Menemani dan Melindungi Rasulullah saat Hijrah ke Madinah

Agama

Manfaat Berpuasa bagi Kesehatan

Agama

Maulid Nabi: Bid’ah, Benarkah ! (Part 3)

Agama

SilverSneakers Fitness Program Improves Older Adult’s Physical and Mental Health
Sabar

Artikel

Sabar Itu Apasih? Yuk Cari Tau Arti dan Maknanya!

Agama

Islam Melarang Sikap Ekstrem Sekalipun dalam Beribadah
Rasulullah

Agama

Rasulullah Pernah di Tolak Lamarannya 2 kali???