Ketika Agama Dijual: Komodifikasi Agama di Era Dakwah Hiburan

- Penulis

Sabtu, 14 Maret 2026 - 20:27 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Dukung Pembangunan Pondok Pesantren Al Muhajirin

Ketika Agama Dijual: Pengertian Komodifikasi Agama

Komodifikasi merupakan sebuah proses transformasi atau pengubahan suatu nilai guna menjadi suatu nilai yang dapat dikomersilkan atau dijual.

Dalam konteks yang lebih luas, komodifikasi tidak hanya terbatas pada barang fisik saja, melainkan pada aspek-aspek abstrak seperti nilai-nilai keagamaan.

Dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya media massa, penggambaran agama di ruang publik telah berubah secara signifikan. Fenomena tersebut tidak lepas dari pengaruh media massa yang semakin mendominasi kehidupan masyarakat sehari-hari. Fenomena ini menciptakan paradigma baru dalam cara kita memahami dan merayakan spiritualitas.

Hal ini dikenal sebagai “komodifikasi agama” menjadi sorotan kritis dalam upaya memahami bagaimana nilai-nilai keagamaan diubah, dikemas, dan dipasarkan kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikası.

Menurut Vincent Mosco (2009), komodifikasi agama merupakan suatu proses transformasi nilai-nilai agama dan unsur spiritual menjadi barang dan jasa yang dapat diperdagangkan.

Baca Juga :  Pencegahan dan Dampak Gangguan Mental? Yuk Simak!

Media merupakan elemen penting dalam membentuk arus budaya dan informasi populer, serta memainkan peran sentral dalam mengkomunikasikan agama kepada masyarakat. Industri media memainkan peran sentral sebagai salah satu kekuatan paling berpengaruh dalam membentuk opini dan persepsi publik.

Komodifikasi agama adalah proses menjadikan simbol, praktik, dan ajaran agama sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan untuk keuntungan ekonomi dan politik. Hal ini bisa terjadi ketika agama itu diubah menjadi produk yang bisa dipasarkan dan dikonsumsi, seperti dalam industri fashion, media, jasa keuangan, dan lain-lain.

Ketika Agama Dijual: Contoh Komodifikasi Agama

Contohnya adalah ibadah sebagai produk yang dijual premium yaitu,  ibadah haji melalui “furoda” yang harganya berkali lipat sangat mahal dan itu menciptakan ketimpangan akses.

Baca Juga :  Menyiapkan Hati di Bulan Rajab Sebelum Bulan Ramadhan Datang

Fenomena ini paling terlihat, dengan munculnya dakwah hiburan (dakwahtainment). Program dakwah zaman dulu biasanya serius dan fokus ke isi ceramah. Sekarang formatnya lebih “entertainment”: ada berbagai candaan, musik, panggung penuh dekor, dialog ringan, bahkan tema-tema yang dibuat dramatis.

Penelitian tentang program TV Islam Itu Indah menunjukkan bahwa cara penyajian agama memang dikemas biar menarik dan bernilai komersial, jadi bukan hanya soal penyampaian ilmu, tapi juga soal rating, branding da’i, sponsor, dan jumlah penonton. Komodifikasi agama juga makin kuat di media sosial.

Zaman sekarang banyak konten dakwah di YouTube, TikTok, dan Instagram dibuat dengan logika algoritma, seperti thumbnail yang menarik, judul yang heboh, durasi pendek, dan mengikuti topik-topik yang lagi viral. Komodifikasi agama tidak sepenuhnya buruk.

Baca Juga :  Isbal Part (1)

Ada juga sisi positifnya, yaitu dengan adanya format dakwah yang lebih ringan dan menarik justru bisa menjangkau orang-orang yang biasanya jauh dari pengajian atau kajian agama.

Generasi muda yang jarang datang ke majelis, misalnya, jadi bisa belajar agama lewat media digital dengan cara yang relate dan mudah dipahami.

Artinya, komodifikasi bisa jadi “strategi adaptasi” agama di era modern, selama substansinya tetap dijaga (Syafuddin, Commodification of Religion-Based Audiovisual Content). Masalah muncul ketika nilai agama mulai terkikis dari kepentingan pasar.

Ketika semua hal dinilai hanya dari sisi viral atau tidaknya, pesan agama sering disederhanakan, ditambah terlalu dramatisir, bahkan kadang diubah-ubah supaya penonton banyak.

Ada juga risiko cult of personality, yaitu ketika ustaz atau penceramah lebih dipuja sebagai selebritas dibanding dihormati karena keilmuannya. Ketika agama terlalu ikut arus industri media, esensi dakwah dapat tergerus oleh kepentingan komersial.

Follow WhatsApp Channel theambyar.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!
Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru
Kenapa Kita Susah Berubah?
Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu
Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai
Di Balik Reruntuhan Pakungwati, Ada Kisah Cinta dan Awal Peradaban Islam Cirebon!
BP3 Cirebon Gelar Lomba Renang, Latih Mental Anak
Dikhianati, tapi Harus Memaafkan?
Berita ini 3 kali dibaca
Tag :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

1 × 2 =

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kucing, Tuas, dan Kita: Bagaimana Otak Diam-Diam Belajar Kebiasaan Baru

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Kenapa Kita Susah Berubah?

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Kamu Adalah Kebiasaanmu: Ilmu di Balik Alam Bawah Sadar yang Membentuk Dirimu

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pesisir Pelabuhan Cirebon, Dari Dermaga Bersejarah Jadi Spot Santai

Berita Terbaru

Artikel

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Kamis, 29 Okt 2026 - 10:00 WIB

Artikel

Kenapa Kita Susah Berubah?

Minggu, 25 Okt 2026 - 10:00 WIB