Aurélie Moeremans dan Jerat Rantai Kekerasan

- Penulis

Rabu, 9 September 2026 - 09:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Dukung Pembangunan Pondok Pesantren Al Muhajirin

Aurélie Moeremans atau kerap disapa Aurelie baru-baru ini membagikan kisah perjalanan hidupnya yang ia tulis dalam buku berjudul “Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah.” Sebuah perjalanan hidup tentang masa lalu yang kelam karena grooming. Buku ini membawa pembacanya menyelami masa-masa berat, sulit, dan menyakitkan dalam masa kecilnya.

Aurelie lahir di Brussel, Belgia pada 08 Agustus 1993, anak pertama dari keluarga Katolik yang tinggal di Brussel. Dia pindah ke Indonesia untuk meniti karirnya sebagai model dan publik figure.

“Broken Strings” adalah seluruh kisahnya tentang relasi yang manipulatif, penuh pemaksaan, perundungan, pelecehan, serta kekerasan fisik dan psikologis.

Aurelie adalah perempuan yang bertalenta, berhasil memenangkan sebuah ajang pencarian bakat tahun 2007. Fotonya beredar di seluruh koran dan media saat itu.  Setelahnya, ia berajang di Jakarta dengan peran berbahasa Prancis. Dan karena itu Aurelie berhasil berada di lokasi syuting, berperan, menjadi artis cilik.

Baca Juga :  Maulid Nabi: Bid'ah, Benarkah ! (Part 3)

Bobby, laki-laki berusia dua puluh sembilan tahun yang dipasangkan dengan Aurelie dalam sebuah iklan. Hubungannya berlanjut hingga mereka berpacaran. Hubungan perempuan berusia 15 tahun dan laki-laki 29 tahun.

Manipulasi dan kontrol

Relasi yang manipulatif dan pengendalian dirasakan oleh Aurelie, anak perempuan yang belum tau arti kesepakatan, kerja sama, dan persetujuan. Perilaku manipulatif dibungkus kata-kata indah, “Aku sayang kamu”, “Aku tahu yang terbaik”, “Aku yang berjuang”. Dan setiap yang dilakukan adalah hutang yang harus dibayar. Hutang waktu, hutang tenaga. Apa yang dilakukan laki-laki itu harus dibayar dengan tubuh dan kepatuhan.

Aurelie masuk dalam sangkar yang tidak membiarkannya menghirup kebahagiaan dan tercekat ketakutan setiap saat. Tuntutan membalas pesan dengan cepat, panggilan telpon yang harus diangkat setiap saat, tuduhan yang menyerang, semuanya terjadi dalam relasi itu.

Kehidupannya dikendalikan dengan satu kalimat: “Tenang saja, kau akan menjadi istriku.” Kata-kata penenang yang manipulatif. Jiwanya penuh amarah, penuh benci. Setiap saat adalah tangisan yang tak pernah selesai. Tubuhnya tidak lagi menjadi miliknya, janji-janji pernikahan tidak pernah ia inginkan.

Baca Juga :  Menengok Situs Balong Biru Di Cirebon: On The ambyar

Kekerasan dan kuasa

Dalam setiap bab yang ditulis, buku “Broken Strings” menggambarkan perilaku kekerasan dan penguasaan. Bobby melakukan kekerasan seksual, pemaksaan, dan ancaman, tentu dengan ungkapan-ungkapan manipulatif hingga Aurelie selalu menyalahkan dirinya sendiri. Berpikir bahwa ia yang keterlaluan, dan meragukan dirinya sendiri. Meski dalam jiwanya, jauh ke dalam hati nurani, ia tidak menginginkan itu. Tidak mau berada di tempat itu, dan ingin mengakhiri relasinya sesegera.

Ketakutan memenuhi jiwanya. Setiap kali ia mengalah, Bobby selalu menginginkan lebih. Tidak ada persetujuan, hanya pemaksaan dan ketakutan. Berawal dari sentuhan, lalu jilatan, hingga kekuasaan penuh atas tubuhnya.

Setiap kali ada penolakan, yang timbul adalah pengungkitan harga-harga yang harus Aurelie bayar. Seolah kesetiaan, penerimaan, dan waktu yang Bobby berikan adalah cinta yang harus dibayar penuh dengan kata “Ya!”. Pada setiap apapun yang ia mau, terutama perampasan ketubuhan dan kemerdekaannya.

Baca Juga :  Sejarah Keramat Tuk Jasi Di Cirebon: On The ambyar

Setiap “Ya” yang baru adalah rantai baru yang semakin membunuh, mencekik, dan membuat luka baru di tubuhnya. Menyentuh tidak lagi cukup, tubuh tidak lagi cukup. Dan yang dirasakan Aurelie tetap sama, perasaan bersalah, perasaan takut, perasaan berdosa, dan kehilangan dirinya sendiri.

Child-grooming

Apa yang ditulis oleh Aurelie menandai bahwa child-grooming banyak terjadi di sekitar kita. Pelecehan terhadap anak di bawah umur, kontrol atas tubuh dan akses, pemaksaan, ancaman, semua itu terjadi di tubuhnya, di kehidupannya. Memoar yang ditulis begitu nyata: ketakutan, perasaan marah, kehilangan, dan eksploitasi, perampasan hak atas tubuh, pengendalian diri, dan kekuasaan. Semua itu bukan cinta. Itu adalah manipulasi berkedok kasih sayang. []

 

Artikel ini telah terbit di umahramah.org

Ditulis Oleh : Dewi Raudlatul Jannah

Follow WhatsApp Channel theambyar.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Awalnya Kosong, Tapi Akhirnya Saya Mengerti Makna Toleransi
Surat dari Malaikat Kecil
Notifikasi Langit
Sumur Wasiat? Yuk Kepoin Kisah Mistis dari Sumur Wasiat!
Mengenal Ki Gede Alang-Alang? Siapakah Sosok Itu? On The ambyar
Situs Krapyak? Kerajaan Tertua di Nusantara: New On The Ambyar
Mengenal Ki Gede Tuan Laras: On The Ambyar
Mitos Tanjakan Cimangu: On The ambyar
Berita ini 36 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

4 × 1 =

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 09:00 WIB

Aurélie Moeremans dan Jerat Rantai Kekerasan

Senin, 25 Mei 2026 - 21:55 WIB

Awalnya Kosong, Tapi Akhirnya Saya Mengerti Makna Toleransi

Minggu, 19 Oktober 2025 - 09:30 WIB

Surat dari Malaikat Kecil

Sabtu, 5 April 2025 - 10:07 WIB

Notifikasi Langit

Jumat, 28 Mei 2021 - 21:01 WIB

Sumur Wasiat? Yuk Kepoin Kisah Mistis dari Sumur Wasiat!

Berita Terbaru

Artikel

Sebelum Mengubah Kebiasaan, Kenali Dulu Siapa Dirimu!

Kamis, 29 Okt 2026 - 10:00 WIB

Artikel

Kenapa Kita Susah Berubah?

Minggu, 25 Okt 2026 - 10:00 WIB